Khaira Tunnisak: Ceulangik Adalah Ayah Ruhani Kami, Pembuka Jalan Masa Depan Anak Syuhada
BIREUEN- Di balik perjalanan panjang menempuh pendidikan tinggi, tersimpan kisah perjuangan dan kepedulian yang begitu berarti bagi Khaira Tunnisak, mahasiswi asal Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen. Rabu 4 November 2026.
Saat ini, Khaira tengah menempuh pendidikan Strata Satu (S1) pada Program Studi Administrasi Publik, Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen. Ia merupakan salah seorang anak syuhada di Kabupaten Bireuen yang memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui perhatian dan dukungan Yayasan Almuslim.
Bagi Khaira, kesempatan mengenyam pendidikan tinggi bukan sekadar perjalanan akademik untuk meraih gelar sarjana. Lebih dari itu, pendidikan merupakan jalan untuk membangun masa depan, menggapai cita-cita, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih keberhasilan.
Di tengah perjalanan tersebut, ada sosok yang dinilainya memiliki peran besar. Sosok itu adalah Rusyidi Mukhtar, yang akrab disapa Ceulangik.
Khaira menyebut Ceulangik bukan hanya sebagai pimpinan yayasan, tetapi telah menjadi figur orang tua yang memberikan perhatian, bimbingan, dan dukungan terhadap masa depan pendidikan mereka.
"Tanpa kepedulian dan perhatian Ceulangik, mungkin kami tidak akan mampu menempuh pendidikan sampai sejauh ini. Bagi kami, beliau bukan sekadar pimpinan yayasan, melainkan sudah seperti ayah ruhani yang selalu memperhatikan masa depan kami," ungkap Khaira.
Menurutnya, Ceulangik merupakan sosok yang memiliki wawasan intelektual, pemikiran luas, serta kepedulian yang tulus terhadap dunia pendidikan. Perhatian tersebut tidak hanya diwujudkan melalui dukungan moral, tetapi juga bantuan ekonomi untuk menunjang kebutuhan perkuliahan mereka.
Khaira menilai, kepedulian seperti itu sangat berarti bagi anak-anak syuhada yang membutuhkan kesempatan dan dukungan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
"Beliau memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Tidak hanya memikirkan bagaimana kami bisa kuliah, tetapi juga bagaimana pendidikan ini dapat menjadi bekal untuk masa depan. Bahkan, ketika kami menghadapi persoalan ekonomi dalam menjalani perkuliahan, beliau turut memberikan perhatian dan bantuan," tuturnya.
Program kepedulian pendidikan yang digagas pada 2023 tersebut menjadi salah satu harapan bagi anak-anak syuhada di Kabupaten Bireuen untuk memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.
Bagi Khaira dan rekan-rekannya, program tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan bentuk kepedulian yang membuka kesempatan bagi mereka untuk menata masa depan melalui dunia akademik.
Harapan mereka pun tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan S1. Khaira bersama rekan-rekannya berharap perhatian terhadap pendidikan anak-anak syuhada dapat terus berlanjut, termasuk membuka peluang untuk melanjutkan studi ke jenjang Strata Dua (S2).
"Kami berharap ke depan Ceulangik tetap diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus memperjuangkan pendidikan. Kami juga sangat berharap ada kesempatan bagi kami untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, serta semakin banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu yang mendapatkan kesempatan serupa," harap Khaira.
Ia menegaskan, perhatian terhadap pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga masyarakat dan daerah pada masa mendatang.
"Berkat perhatian Ceulangik, kami anak-anak syuhada dapat mengenal lebih jauh dunia pendidikan. Beliaulah yang telah membuka jalan bagi masa depan kami. Semoga kepedulian ini terus berlanjut sehingga semakin banyak generasi muda yang bisa meraih cita-citanya," pungkasnya.
Bagi Khaira, sosok Ceulangik akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup dan pendidikannya. Sebab, ketika kesempatan untuk meraih masa depan terasa tidak mudah, hadir seseorang yang memilih untuk membuka jalan melalui kepedulian dan pendidikan.(Red)
Baca Juga: