Proyek Teras Meunasah Lingka Kuta Disorot, Sebulan Baru Pasang Mal, Papan Informasi Misterius
BIREUEN- Pembangunan teras Meunasah Gampong Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, mulai menuai sorotan tajam masyarakat. Proyek yang telah berjalan sekitar satu bulan sejak awal Oktober 2026 itu dinilai berjalan lamban. Ironisnya, hingga Ahad (1/11/2026), pekerjaan disebut masih berkutat pada tahap pemasangan mal.
Tak hanya progres pekerjaan yang dipertanyakan, transparansi proyek juga menjadi persoalan. Papan informasi kegiatan yang semestinya menjadi sarana keterbukaan informasi publik justru tidak terlihat di lokasi pembangunan. Kondisi ini memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat, berapa nilai anggaran proyek, siapa pelaksananya, berapa lama masa pengerjaannya, dan kapan pembangunan tersebut ditargetkan rampung?
Keluhan itu disampaikan seorang warga Gampong Lingka Kuta yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada wartawan Theatjehnet melalui WhatsApp, Ahad (1/11/2026).
Menurut warga tersebut, lambannya progres pembangunan tidak mencerminkan keseriusan pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan. Padahal, pembangunan fasilitas ibadah semestinya mendapat perhatian serius, baik dari sisi kualitas, ketepatan waktu maupun keterbukaan penggunaan anggaran.
“Sejak pekerjaan dimulai sekitar satu bulan lalu, awal Oktober, sampai hari ini yang kami lihat masih pada tahap pemasangan mal. Kami mempertanyakan keseriusan kontraktor dalam menyelesaikan pembangunan teras meunasah ini,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari para pekerja, ketersediaan material di lokasi tidak selalu lancar. Material yang dibutuhkan terkadang tersedia, tetapi pada waktu lain justru terlambat didatangkan sehingga pekerjaan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Kalau memang tidak sanggup bekerja secara maksimal, seharusnya pekerjaan ini ditangani kontraktor yang benar-benar kompeten dan mampu menyelesaikannya sesuai target,” tegasnya.
Papan Informasi Tak Terpasang, Pengawasan Dipertanyakan
Persoalan lain yang tak kalah serius adalah tidak terpasangnya papan informasi proyek di lokasi pembangunan. Padahal, papan tersebut merupakan instrumen penting keterbukaan informasi agar masyarakat dapat mengetahui sumber anggaran, nilai kontrak, pelaksana kegiatan, volume pekerjaan hingga jangka waktu penyelesaian.
Warga juga mengaku tidak melihat keberadaan unsur pengawas maupun pelaksana proyek saat memantau aktivitas pembangunan. Di lokasi, menurutnya, hanya terlihat para pekerja yang menjalankan pekerjaan teknis.
“Di lapangan yang kami lihat hanya tukang. Unsur pengawas atau pelaksana tidak terlihat, apalagi papan proyek. Akibatnya, kami sebagai masyarakat kesulitan jika ingin berkoordinasi dan menanyakan perkembangan pekerjaan,” keluhnya.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dilakukan. Sebab, tanpa informasi yang jelas dan pengawasan yang dapat diakses masyarakat, publik sulit memastikan apakah pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis, ketentuan kontrak dan jadwal yang telah ditetapkan.
Kepala Tukang Akui Terkendala Material Bambu
Sementara itu, kepala tukang yang ditemui oleh Wartawan di lokasi Ahad 1 November 2026 sore. terkait lambannya pengerjaan menyebutkan bahwa dirinya mengerjakan proyek teras Meunasah Lingka Kuta melalui seseorang bernama Rifai dari Pante Ranub.
"Saya mengerjakan proyek teras Meunasah Lingka Kuta melalui Rifai dari Pante Ranub," ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa pekerjaan mengalami keterlambatan akibat belum tersedianya material bambu yang dibutuhkan malah material lain yang dibawa, sementara bambu baru sampai hingga untuk penyangga pondasi meunasah.
“Pekerjaan ini lambat karena kami masih menunggu bambu untuk pondasi meunasah. Sedangkan bambu baru sampai, Itu yang membuat pengerjaan menjadi terlambat,” jelasnya.
Keterangan tersebut semakin mempertegas adanya persoalan dalam kelancaran penyediaan material. Namun, belum diketahui apakah keterlambatan tersebut telah diperhitungkan dalam perencanaan pekerjaan atau justru menunjukkan lemahnya persiapan sebelum proyek mulai dilaksanakan.
Publik Menunggu Penjelasan
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun pihak dinas terkait, belum Mendapatkan konfirmasi lebih lanjut, mengenai nilai anggaran, identitas pelaksana, jadwal kontrak, progres fisik, kendala pengadaan material serta alasan tidak terpasangnya papan informasi proyek.
Masyarakat tentu tidak sekadar membutuhkan bangunan teras meunasah yang selesai dikerjakan. Mereka juga berhak mengetahui bagaimana anggaran digunakan, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Sebab, pembangunan fasilitas publik bukan hanya soal berdirinya sebuah bangunan, melainkan juga menyangkut tanggung jawab, transparansi dan akuntabilitas pihak pelaksana.
Kini, pertanyaan mendasar tertuju kepada pihak dinas terkait: mengapa proyek sudah berjalan sekitar satu bulan, tetapi progresnya masih dipersoalkan, sementara papan informasi yang menjadi hak publik untuk mengetahui detail kegiatan justru tidak terlihat di lokasi?.(MS)
Baca Juga: