MPU Bireuen Gembleng 37 Kader Ulama, Perkuat Akidah dan Bentengi Generasi dari Krisis Moral
BIREUEN- Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Bireuen terus memperkuat peran ulama dalam menjaga kemurnian akidah, membina akhlakul karimah, serta membentengi masyarakat dari berbagai ancaman sosial yang kian kompleks. Melalui Pendidikan Kader Ulama (PKU) Tahun 2026, sebanyak 37 peserta dipersiapkan menjadi generasi ulama muda yang berilmu, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan umat di tengah derasnya arus modernisasi.
Pendidikan kaderisasi tersebut resmi dibuka di Wisma Bireuen Jaya, Rabu (14/10/2026), dan berlangsung selama sembilan hari, hingga 22 Oktober 2026. Program ini menjadi bagian dari ikhtiar MPU Bireuen dalam menyiapkan penerus perjuangan ulama yang tidak hanya mendalami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mampu membimbing umat, memperkuat persatuan, serta memberikan solusi atas persoalan kehidupan masyarakat.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyalahgunaan narkoba, maraknya praktik judi online, kemerosotan akhlak, hingga berbagai persoalan yang melibatkan generasi muda, kehadiran ulama dinilai semakin penting. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga harus mampu menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Bupati Bireuen, Mukhlis, saat membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan manusia yang berlandaskan iman, ketakwaan, moralitas, serta nilai-nilai keislaman merupakan fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang bermartabat.
Menurutnya, kemajuan suatu daerah harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan pembinaan akhlak masyarakat. Tanpa landasan moral dan spiritual yang kokoh, perkembangan zaman justru dapat menghadirkan tantangan baru yang mengancam kehidupan sosial dan masa depan generasi muda.
“Kader ulama masa kini dituntut tidak hanya memahami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan sosial masyarakat,” kata Mukhlis dalam sambutannya.
Ia menegaskan, identitas Bireuen sebagai Kota Santri harus diwujudkan melalui lahirnya generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, keluasan wawasan, serta kemampuan membimbing umat secara bijaksana.
Menurutnya, ulama memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kehidupan keagamaan sekaligus menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, sehingga masyarakat mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pegangan akidah dan moral.
Pemerintah Kabupaten Bireuen, lanjutnya, berkomitmen mendukung keberlanjutan program kaderisasi ulama melalui kebijakan dan dukungan anggaran sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pendidikan ini bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Ini adalah amanah untuk menentukan arah dan masa depan Bireuen,” ujarnya.
37 Peserta Ditempa dengan Ilmu Keislaman
Kepala Sekretariat MPU Kabupaten Bireuen, Said Jamaluddin, melaporkan bahwa sebanyak 37 peserta mengikuti PKU 2026 setelah melewati tahapan seleksi administrasi dan kualifikasi. Mereka merupakan utusan dari berbagai dayah atau pesantren serta kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Selama pendidikan berlangsung, para peserta mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, mulai dari ulama senior, pimpinan dayah, pengurus MPU Kabupaten Bireuen dan MPU Aceh, akademisi, hingga praktisi hukum Islam.
Beragam materi tersebut dirancang untuk memperdalam pemahaman keislaman, memperkuat wawasan kebangsaan, serta membangun kemampuan peserta dalam memahami dan menyikapi persoalan umat secara arif, bijaksana, dan berlandaskan ajaran Islam.
Kepada The Atjeh Net, Sabtu (17/10/2026), Said Jamaluddin menyampaikan bahwa salah satu materi yang diberikan dalam pendidikan kader ulama hari ini adalah ilmu tauhid dan tasawuf, yang disampaikan oleh Abiya H. Muhammad Baidawi, selaku Pimpinan Dayah Mafadh Atjeh.
Pembelajaran tauhid menjadi bagian penting dalam membangun fondasi keimanan dan memperkokoh keyakinan peserta, sedangkan tasawuf memberikan penekanan pada penyucian jiwa, pembinaan hati, dan pembentukan akhlak mulia.
Kedua bidang ilmu tersebut memiliki kedudukan penting dalam pembentukan karakter seorang ulama. Kedalaman ilmu harus berjalan beriringan dengan kebersihan hati, keteladanan perilaku, serta kesungguhan dalam mengabdi kepada umat.
Dengan bekal tersebut, para kader diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan pengetahuan agama, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui sikap, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Ulama sebagai Pewaris Nabi dan Pembimbing Umat
Ketua MPU Kabupaten Bireuen, Saifuddin Muhammad, menegaskan bahwa ulama memiliki kedudukan mulia sebagai warasatul anbiya, yakni pewaris para nabi. Kedudukan tersebut mengandung tanggung jawab besar untuk menjaga ajaran agama, menyampaikan kebenaran, membina akhlak, serta membimbing masyarakat menuju kehidupan yang diridai Allah SWT.
Menurutnya, menjadi ulama bukan sekadar menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Seorang ulama juga dituntut memiliki keteguhan iman, kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dalam bertindak, dan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi umat.
Terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan perubahan sosial, kader ulama harus mampu menempatkan diri sebagai pembimbing yang menyejukkan, bukan memperkeruh keadaan. Dakwah harus disampaikan dengan ilmu, hikmah, keteladanan, serta pendekatan yang mampu merangkul masyarakat.
“Kader ulama diharapkan mampu menjadi sosok yang moderat, menyejukkan, memberikan solusi, dan mempererat ukhuwah Islamiyah,” tutur Saifuddin.
Ia juga mengingatkan para peserta agar memanfaatkan kesempatan pendidikan tersebut dengan sungguh-sungguh, memperdalam ilmu agama, memperkuat akhlakul karimah, dan menanamkan niat yang tulus untuk mengabdi kepada masyarakat.
Menurutnya, kaderisasi ulama merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kehidupan keagamaan. Ulama yang berilmu dan berakhlak diharapkan mampu menjadi tempat masyarakat bertanya, meminta nasihat, serta mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan kehidupan.
Menjaga Marwah Kota Santri
Pendidikan Kader Ulama 2026 memiliki arti strategis bagi Kabupaten Bireuen yang selama ini dikenal dengan identitasnya sebagai Kota Santri. Identitas tersebut bukan semata-mata melekat pada keberadaan dayah dan lembaga pendidikan Islam, melainkan juga harus tercermin dalam perilaku masyarakat, kehidupan sosial, serta kuatnya nilai-nilai agama dalam penyelenggaraan kehidupan daerah.
Di tengah berbagai tantangan zaman, regenerasi ulama menjadi kebutuhan mendasar agar pembinaan umat tetap berjalan dan nilai-nilai Islam terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ulama muda dituntut mampu menjembatani khazanah keilmuan Islam dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Mereka harus memiliki kedalaman pemahaman agama, keluasan wawasan, kemampuan berkomunikasi, serta keteguhan dalam menjaga prinsip-prinsip syariat.
Lebih dari itu, keberhasilan kaderisasi tidak cukup diukur dari terselenggaranya pendidikan atau banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Hasil akhirnya harus terlihat dari lahirnya ulama yang benar-benar hadir di tengah masyarakat, menjadi teladan dalam akhlak, menguatkan persaudaraan, serta berperan aktif dalam mencegah berbagai persoalan sosial.
Melalui PKU 2026, MPU Kabupaten Bireuen berharap lahir generasi ulama muda yang kokoh akidahnya, luas ilmunya, bersih hatinya, dan mulia akhlaknya. Mereka diharapkan mampu meneruskan perjuangan para ulama terdahulu dalam menjaga agama, membina umat, serta merawat keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, masa depan Bireuen sebagai Kota Santri tidak hanya ditentukan oleh kemajuan pembangunan fisik, tetapi juga oleh sejauh mana nilai-nilai keislaman tetap hidup dalam hati dan perilaku masyarakatnya. Di sinilah peran kader ulama menjadi penting: menjaga cahaya ilmu, meneguhkan iman, dan membimbing generasi menuju kehidupan yang lebih baik, bermartabat, serta diridai Allah SWT.(MS)
Baca Juga: