SWIPE UP TO READ

Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara

Harlah ke-800 Aceh Utara akan diisi 800 penampil Rapa’i, festival kuliner 27 kecamatan, expo, aksi sosial dan pasar murah

THE ATJEH NET
— Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyiapkan Piasan Pase 2026 untuk memperingati Hari Lahir ke-800 daerah tersebut. Festival selama tujuh hari itu akan menggabungkan sejarah Samudera Pasai, seni tradisional, kuliner, kegiatan keagamaan, aksi sosial, expo hingga pasar murah.

Piasan Pase berlangsung 7-13 September 2026 dengan pusat kegiatan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon. Rangkaian kegiatan dimulai sehari sebelumnya dengan ziarah ke sejumlah makam tokoh Samudera Pasai.

Salah satu agenda yang menjadi penanda skala peringatan tersebut adalah pertunjukan kolosal yang melibatkan 800 penampil Rapa’i Pase pada puncak Harlah, 7 September.

Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil mengatakan usia 800 tahun merupakan bagian dari perjalanan panjang daerah yang berkaitan erat dengan sejarah peradaban Samudera Pasai.

“Delapan ratus tahun bukan sekadar angka. Akan tetapi, perjalanan panjang sebuah peradaban yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Aceh, Nusantara, bahkan dunia,” kata Ismail.

Sejarah Samudera Pasai Jadi Pembuka

Rangkaian Piasan Pase dimulai pada 6 September dengan ziarah ke kompleks makam Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasyiah di Kecamatan Samudera.

Kegiatan tersebut diisi pembacaan Al-Qur’an, samadiyah dan tahlil. Pada hari yang sama juga dijadwalkan Rapat Paripurna Istimewa DPRK Aceh Utara.

Ziarah menjadi bagian penting karena peringatan 800 tahun Aceh Utara kembali dikaitkan dengan jejak Samudera Pasai yang berada di wilayah Aceh Utara.

Sejarah tersebut kemudian dibawa ke dalam rangkaian kegiatan budaya. Pemerintah daerah menyiapkan pementasan drama sejarah Sultan Malik Al-Shaleh, pertunjukan seni tradisional dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Museum Pase.

27 Kecamatan Ikut Festival Kuah Kari

Pada 8 September, giliran kuliner daerah yang menjadi perhatian. Sebanyak 27 kecamatan di Aceh Utara dijadwalkan mengikuti Festival dan Lomba Kuliner Kenduri Kuah Kari Pase.

Festival tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan makanan tradisional yang masih hidup dalam masyarakat Aceh Utara.

Agenda hari itu juga mencakup seminar dan lomba peradilan adat serta kegiatan yang berkaitan dengan Museum Pase.

Sehari sebelumnya, pada 7 September, pemerintah daerah menjadwalkan upacara puncak Harlah, pembukaan expo dan pertunjukan kolosal 800 Rapa’i Pase. Penyambutan Menteri Kebudayaan dan rombongan dari Jakarta juga masuk dalam agenda.

Pertanian dan Mitigasi Bencana

Piasan Pase tidak seluruhnya berisi kegiatan sejarah dan hiburan. Pada 9 September, pemerintah daerah memasukkan Expo Inovasi Pertanian dan Mitigasi Bencana.

Selain itu, terdapat lomba olahraga tradisional dan pementasan drama sejarah Sultan Malik Al-Shaleh.

Agenda tersebut memperluas tema Piasan Pase dari sekadar perayaan hari jadi menjadi ruang untuk menampilkan potensi pertanian, kebudayaan sekaligus isu kebencanaan di Aceh Utara.

Pada 10 September, kegiatan beralih ke agenda keagamaan dan sosial. Lomba baca kitab kuning, Fahmil dan Syarhil Qur’an dijadwalkan berlangsung pada hari tersebut.

Pemerintah daerah juga menyiapkan santunan bagi 800 anak yatim serta Malam Dzikir Akbar dan Shalawat.

800 Pohon hingga Pasar Murah

Kegiatan sosial dan lingkungan berlanjut pada 11 September melalui gotong royong, donor darah dan penanaman 800 pohon.

Pada hari yang sama digelar fashion show busana adat bermotif Pase serta Grand Final Duta Wisata.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 12 September dengan jalan santai, sepeda santai dan permainan tradisional. Masyarakat juga dijadwalkan mengikuti Kenduri Rakyat dan panggung seni.

Piasan Pase 2026 ditutup pada 13 September dengan pasar murah pangan, pertunjukan kolosal, pengumuman pemenang perlombaan dan agenda penutupan.

Kehadiran pasar murah menjadi salah satu agenda yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Namun, sejauh ini belum ada keterangan mengenai komoditas yang dijual maupun besaran subsidi yang disiapkan pemerintah.

Bukan Sekadar Mengenang Masa Lalu

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menjadikan sejarah Samudera Pasai sebagai benang merah peringatan Harlah ke-800.

Sejarah tersebut diterjemahkan melalui ziarah, pertunjukan seni, drama sejarah, festival kuliner dan kegiatan yang berkaitan dengan Museum Pase. Pada saat yang sama, pemerintah memasukkan expo pertanian, UMKM, kegiatan sosial serta pasar murah dalam rangkaian festival.

Konsep itu membuat Piasan Pase tidak hanya berbicara tentang usia daerah, tetapi juga tentang bagaimana sejarah dan kebudayaan Pase diperkenalkan kembali melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Dampak ekonomi terhadap pelaku usaha lokal masih menjadi tujuan yang hendak dicapai melalui expo, festival kuliner dan kegiatan UMKM. Besaran manfaat ekonominya baru dapat diukur setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

Bagi Aceh Utara, peringatan 800 tahun menjadi momentum untuk mengangkat kembali identitas Pase yang berakar pada sejarah Samudera Pasai. Tantangannya bukan hanya merayakan masa lalu, tetapi memastikan sejarah tersebut tetap relevan bagi generasi sekarang.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara
  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara
  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara
  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara
  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara
  • Piasan Pase 2026, 800 Rapa’i hingga Festival Kuah Kari Meriahkan Harlah Aceh Utara