RSUDZA Perdana Terapkan Terapi Sel Punca untuk Pasien Cedera Tulang Belakang
RSUDZA melakukan penyuntikan sel punca melalui metode intratekal untuk pasien cedera tulang belakang dengan pendampingan tim RSUP Sardjito.
![]() |
| Tim dokter RSUDZA mampu merealisasikan tindakan intrathecal stem cell (sel punca) untuk pertama kalinya bagi pasien dengan kasus trauma Medulla Spinalis (cedera tulang belakang). |
BANDA ACEH — Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Aceh untuk pertama kalinya melakukan prosedur pemberian sel punca melalui metode intratekal kepada pasien dengan cedera tulang belakang atau trauma medulla spinalis.
Prosedur tersebut dilakukan oleh tim medis RSUDZA dengan pendampingan tim Stem Cell RSUP dr. Sardjito. Pelaksanaannya berada dalam kerangka pelayanan terapi sel punca untuk ortopedi yang mengacu pada ketentuan Kementerian Kesehatan.
Ketua Tim Medis RSUDZA, Prof. dr. Azharuddin, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K), mengatakan tindakan tersebut merupakan hasil kolaborasi tim medis RSUDZA dengan tim dari RSUP dr. Sardjito serta pihak pendukung penyedia produk sel punca.
"Pelaksanaan prosedur ini terlaksana berkat kerja sama jajaran manajemen RSUDZA dan tim medis, dengan kolaborasi serta pendampingan langsung dari tim Stem Cell RSUP dr. Sardjito," kata Azharuddin di Banda Aceh, Kamis (6/8/2026).
Sel punca yang digunakan merupakan Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cell (UC-MSCs). Pemberiannya dilakukan melalui metode intratekal, yakni penyuntikan ke ruang cairan yang mengelilingi sistem saraf pusat.
Menurut Azharuddin, cedera tulang belakang termasuk kondisi trauma berat yang dapat menyebabkan gangguan fungsi motorik dan sensorik. Jaringan saraf memiliki kemampuan regenerasi yang terbatas sehingga penanganannya membutuhkan terapi yang terintegrasi.
Dalam prosedur perdana tersebut, total sel punca yang diberikan mencapai 80 juta sel. Pada tahap pertama diberikan 48 juta sel, kemudian dilanjutkan dengan pemberian pada tahap berikutnya sesuai rencana terapi pasien.
Azharuddin mengatakan terapi sel punca diharapkan dapat mendukung proses pemulihan dengan memengaruhi lingkungan jaringan saraf, termasuk melalui mekanisme yang berkaitan dengan peradangan dan perbaikan jaringan.
Namun, ia menegaskan terapi sel punca tidak dapat diposisikan sebagai terapi yang secara instan menghilangkan kelumpuhan.
"Stem cell bukanlah obat ajaib instan yang langsung menghilangkan kelumpuhan dalam sekali suntik. Terapi ini harus dipadukan dengan operasi, rehabilitasi medis, serta standar etik kedokteran yang ketat," ujarnya.
Pelaksanaan prosedur tersebut juga melibatkan Prostem Prodia sebagai penyedia produk sel punca. RSUDZA menyatakan layanan terapi sel punca akan dikembangkan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan standar pelayanan medis.
Manajemen RSUDZA bersama Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala berharap penerapan layanan tersebut dapat memperluas pilihan pelayanan bagi pasien dengan cedera saraf tulang belakang di Aceh.
Dengan prosedur perdana ini, RSUDZA mulai mengembangkan kapasitas layanan terapi sel punca di Aceh. Namun, hasil terapi tetap bergantung pada kondisi pasien dan harus ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian penanganan cedera tulang belakang, bukan sebagai jaminan kesembuhan.
Baca Juga:
