Puluhan Anak Tunjukkan Keberanian, Lomba “Aku Berani Membaca Nyaring” Sukses Digelar di Banda Aceh
BANDA ACEH- Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui gerakan membangun keberanian dan budaya literasi sejak usia dini.
Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan lomba membaca nyaring bertajuk “Aku Anak Indonesia: Aku Berani Membaca Nyaring” yang sukses digelar di Gedung B, Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh (BPK Aceh), Banda Aceh, Minggu (30/8/2026).
Mengusung tagline “Little Stories, Big Memories”, kegiatan yang digagas Read Aloud Anak Banda Aceh itu diikuti puluhan anak yang terbagi dalam dua kategori, yakni Little Reader untuk usia 4-5 tahun dan Young Reader untuk usia 6-7 tahun.
Sejak pukul 08.30 WIB, suasana Gedung B BPK Aceh dipenuhi keceriaan anak-anak yang tampil di hadapan orang tua, dewan juri, dan para peserta lainnya. Satu per satu mereka naik ke panggung untuk membacakan cerita dengan ekspresi dan gaya masing-masing.
Bagi sebagian anak, berdiri di atas panggung dan berbicara di hadapan banyak orang bukanlah perkara sederhana. Namun, justru keberanian untuk mencoba itulah yang menjadi nilai utama dari kegiatan tersebut.
Founder Read Aloud Anak Banda Aceh, Nurul Hajni, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mencari juara, melainkan menjadi ruang pembelajaran bagi anak agar berani tampil, berkomunikasi, sekaligus membangun kedekatan dengan buku.
“Alhamdulillah acaranya berjalan lancar dan meriah. Tujuannya tercapai, yaitu menumbuhkan keberanian anak dan kecintaan pada buku sejak dini. Kami tidak hanya melihat siapa pemenangnya, tetapi bagaimana anak-anak berani naik ke panggung. Itu sendiri sudah merupakan sebuah kemenangan,” ujar Nurul.
Menurutnya, keberanian anak untuk tampil di ruang publik merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter. Membaca nyaring tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali huruf dan memahami kata, tetapi juga melatih kemampuan berbicara, ekspresi, konsentrasi, dan kepercayaan diri.
Kegiatan tersebut turut melibatkan empat pegiat literasi anak Aceh sebagai dewan juri, yakni Kak Beby, Kak Rahmi, Kak Euis, dan Kak Chika.
Kak Beby mewakili dewan juri mengapresiasi keberanian seluruh peserta yang dinilai telah menunjukkan perkembangan dan karakter yang beragam.
“Anak-anak hari ini luar biasa. Ada yang masih gugup, ada yang sangat bersemangat. Yang paling penting mereka mau mencoba. Ini merupakan modal besar untuk masa depan literasi Aceh,” katanya.
Orang Tua Menjadi Bagian Penting dari Gerakan Literasi
Tidak hanya anak-anak yang menunjukkan antusiasme. Kehadiran dan dukungan orang tua juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut.
Sejumlah orang tua hadir sejak awal acara untuk memberikan dukungan moral kepada anak-anak mereka. Bahkan, tidak sedikit ayah yang turut hadir dan mendampingi putra-putrinya selama mengikuti perlombaan.
Kehadiran keluarga dalam kegiatan literasi dinilai memberikan pesan penting bahwa budaya membaca tidak seharusnya hanya dibebankan kepada sekolah. Rumah dan keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal buku, cerita, bahasa, serta kebiasaan belajar.
Salah seorang ibu peserta mengatakan kegiatan seperti itu memberikan ruang yang positif bagi anak untuk belajar tanpa tekanan.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga anak-anak memiliki ruang yang aman dan menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Membaca Nyaring Bukan Sekadar Membaca
Ketua Pelaksana Batch 4 Read Aloud Anak Banda Aceh, Husnul Hafiza, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada anak.
Menurutnya, melalui membaca nyaring, anak tidak hanya diajak membaca sebuah cerita, tetapi juga belajar membangun rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, mengolah ekspresi, memahami pesan cerita, serta menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian untuk menyampaikan cerita dan gagasan di hadapan orang banyak,” ujar Husnul.
Ia mengatakan pengalaman tampil di hadapan publik sejak usia dini diharapkan dapat menjadi bekal bagi anak dalam menghadapi berbagai tahapan kehidupan dan pendidikan di masa mendatang.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana seperti membacakan buku kepada anak, mendengarkan mereka bercerita, dan memberikan kesempatan untuk tampil dapat menjadi investasi penting bagi perkembangan karakter dan kecerdasan anak.
Dengan semangat “Little Stories, Big Memories”, kegiatan “Aku Anak Indonesia: Aku Berani Membaca Nyaring” diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang mendorong keluarga menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Para penyelenggara berharap semangat “Aku Anak Indonesia, Aku Berani Membaca Nyaring” terus tumbuh di rumah, sekolah, perpustakaan, dan berbagai komunitas literasi di Aceh.
Sebab, dari keberanian seorang anak membuka buku, membaca satu cerita, kemudian berani menyuarakannya di hadapan orang lain, dapat tumbuh sebuah generasi yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga berani berpikir, berkomunikasi, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam masa depan bangsa.(Red)
Baca Juga:
