Hari Damai Aceh ke-21 Jadi Ujian Deteksi Dini, Pengamat Soroti Narasi Referendum
Pengamat meminta pemetaan aktor dan pemantauan narasi digital diperkuat menjelang sejumlah momentum historis pada Desember 2026
THE ATJEH NET — Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026 dinilai menjadi ujian bagi kemampuan aparat membaca potensi kerawanan sejak dini. Pengamat Intelijen dan Keamanan Aceh Syafruddin alias Cek Din menyoroti munculnya pengibaran bendera daerah yang disertai narasi kemerdekaan dan referendum.
Menurut Syafruddin, dinamika tersebut menunjukkan momentum historis masih dapat dimanfaatkan untuk mengangkat kembali isu politik. Karena itu, deteksi dini diperlukan agar narasi tersebut tidak berkembang menjadi mobilisasi atau eskalasi yang lebih luas.
"Deteksi dini menjadi penting untuk membaca potensi kerawanan sebelum berkembang menjadi aksi terbuka," kata Syafruddin, Selasa, 25 Agustus 2026.
Syafruddin mengatakan pemetaan aktor, jaringan, potensi massa, serta perkembangan narasi di ruang digital perlu dilakukan sebelum momentum berlangsung. Kegiatan masyarakat yang pada awalnya berlangsung damai, kata dia, tetap berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyisipkan agenda politik.
"Kegiatan masyarakat yang awalnya berlangsung damai dapat dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyisipkan agenda politik dan narasi kemerdekaan atau referendum," ujarnya.
Masjid Raya Baiturrahman Disorot
Syafruddin juga menyoroti penggunaan kawasan Masjid Raya Baiturrahman sebagai lokasi penyampaian agenda politik. Menurut dia, kawasan tersebut memiliki nilai simbolik bagi masyarakat Aceh dan semestinya tetap merepresentasikan perdamaian.
"Masjid Raya Baiturrahman sebagai ikon masyarakat Aceh seharusnya menjadi simbol kedamaian Aceh. Jangan sampai ruang yang memiliki nilai sakral justru menjadi panggung untuk agenda politik," katanya.
Namun, terkait dugaan adanya hubungan jaringan di Aceh dan Papua, Syafruddin meminta aparat tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai koordinasi langsung.
Menurut dia, kesamaan narasi dan momentum perlu dicermati, tetapi hubungan antarkelompok harus dibuktikan melalui data dan fakta.
"Kesamaan momentum dan narasi memang perlu dicermati. Namun, dugaan koordinasi langsung masih memerlukan pendalaman dan verifikasi berdasarkan data serta fakta," ujarnya.
Radar Intelijen Diarahkan ke Desember
Perhatian, kata Syafruddin, perlu diarahkan pada Desember 2026 yang memiliki sejumlah momentum historis sensitif. Ia meminta aparat memperkuat langkah pencegahan sebelum momentum tersebut berlangsung.
"Radar deteksi dini intelijen sudah mulai bekerja sebelum Desember. Hal ini penting untuk mencegah potensi mobilisasi massa secara luas," katanya.
Syafruddin mendorong penguatan pemetaan aktor, pemantauan mobilisasi massa, pengawasan narasi provokatif di ruang digital, serta koordinasi antarlembaga.
Ia mengatakan fungsi intelijen seharusnya tidak hanya bekerja setelah terjadi persoalan, tetapi mampu membaca tanda-tanda awal untuk mencegah eskalasi.
"Intelijen yang kuat bukan yang baru bergerak setelah masalah terjadi, tetapi yang mampu membaca tanda-tanda awal sehingga persoalan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi eskalasi," ujarnya.
Baca Juga:

