SWIPE UP TO READ

SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru

Sebanyak 185 siswa baru dibekali sejarah, bahasa, dan adat daerah sebagai bagian dari penguatan karakter di tengah arus digital.
Pegiat budaya Wanhar Lingga, S.Pd. saat memberikan pembekalan mengenai sejarah dan kearifan lokal Aceh Singkil kepada para siswa baru SMAN 1 Simpang Kanan dalam rangkaian MPLS, Selasa (14/7/2026).

SINGKIL – SMA Negeri 1 Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, mewajibkan materi budaya lokal dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi 185 siswa baru. Kebijakan itu diterapkan sebagai upaya memperkuat karakter dan identitas daerah di tengah derasnya pengaruh budaya global dan perkembangan teknologi digital.

Selama MPLS, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, tetapi juga mendapat pembekalan mengenai sejarah, bahasa, adat istiadat, dan nilai-nilai kearifan lokal Aceh Singkil. Materi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi siswa agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Pegiat budaya sekaligus alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Wanhar Lingga, mengatakan pengenalan budaya lokal sejak dini menjadi fondasi penting untuk menjaga identitas generasi muda.

"Generasi muda hari ini menghadapi tantangan besar melalui dunia digital. Jika tidak dibekali pemahaman tentang sejarah, bahasa, adat istiadat, dan nilai kearifan lokal daerahnya sendiri, mereka bisa menjadi asing di tanah kelahirannya," ujar Wanhar, Selasa (14/7/2026).

Menurut dia, pembelajaran budaya lokal bukan sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan karakter agar generasi muda mampu menyaring pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa.

Kepala SMA Negeri 1 Simpang Kanan, Hazimar, mengatakan sekolah sengaja memasukkan materi budaya lokal ke dalam MPLS karena pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas.

"Kami ingin para siswa baru tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga memahami akar budaya mereka. Ini bagian dari penguatan karakter berbasis kearifan lokal yang kami terapkan," kata Hazimar.

Selain materi budaya lokal, sekolah menggandeng sejumlah instansi untuk memberikan pembekalan kepada peserta MPLS. Materi yang diberikan meliputi wawasan kebangsaan, hukum, kesehatan, hingga pendidikan keagamaan.

Kegiatan tersebut melibatkan Kejaksaan Negeri, Koramil, Polsek, Puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), pengawas sekolah, dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Singkil.

Kolaborasi lintas sektor itu membuat MPLS tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga sarana membekali siswa dengan pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman.

Melalui kebijakan tersebut, SMA Negeri 1 Simpang Kanan berharap siswa baru tumbuh sebagai generasi yang terbuka terhadap perkembangan global, namun tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas dan budaya daerahnya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru
  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru
  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru
  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru
  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru
  • SMA di Aceh Singkil Wajibkan Materi Budaya Lokal dalam MPLS Siswa Baru