Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.109 per Dolar AS, Konflik Iran-AS Tekan Pasar
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 44 poin ke level Rp18.109 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Pelemahan mata uang domestik dipicu meningkatnya ketidakpastian global setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan eskalasi konflik terjadi setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone. Iran juga dikabarkan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
"Serangan tersebut merupakan bagian dari siklus aksi balasan yang kembali meningkatkan ketidakpastian terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz," kata Ibrahim, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Ibrahim, penutupan kembali Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan inflasi sehingga memperbesar peluang bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ia menilai risalah rapat Federal Reserve pada Juni lalu menunjukkan sebagian pejabat masih mencermati risiko inflasi, meski tekanan di pasar tenaga kerja mulai mereda. Pertemuan kebijakan moneter The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli 2026.
Selain sentimen global, Ibrahim menilai pergerakan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik. Menurut dia, dinamika penegakan hukum dan persepsi terhadap kepastian hukum menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam mengambil keputusan investasi.
Ia berpendapat ketidakpastian hukum berpotensi memengaruhi iklim investasi apabila berlangsung berkepanjangan. Namun, pandangan tersebut merupakan analisis pasar dan belum mencerminkan sikap resmi pemerintah maupun otoritas moneter.
Untuk perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS apabila tekanan dari sentimen global masih berlanjut.
Konflik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena kawasan tersebut merupakan jalur distribusi energi dunia. Setiap gangguan terhadap arus pelayaran di Selat Hormuz umumnya berdampak pada kenaikan harga minyak, memicu penguatan dolar AS sebagai aset aman, dan memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga:
