Komisi IV DPRA Panggil Dishub dan ASDP, Evaluasi Keselamatan KMP Aceh Hebat 2 Pasca-Ledakan
DPRA akan meminta penjelasan Dishub Aceh dan ASDP terkait penyebab ledakan KMP Aceh Hebat 2 serta evaluasi sistem keselamatan pelayaran.
![]() |
| Ketua Komisi IV DPRA, Nurdiansyah Alasta |
BANDA ACEH – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) akan memanggil Dinas Perhubungan Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk mengevaluasi sistem keselamatan pelayaran menyusul ledakan pompa hidrolik di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 yang menewaskan empat taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan melukai belasan penumpang serta kru.
Ketua Komisi IV DPRA, Nurdiansyah Alasta, mengatakan pemanggilan tersebut bertujuan memperoleh penjelasan menyeluruh mengenai penyebab insiden sekaligus memastikan langkah perbaikan terhadap standar keselamatan kapal penyeberangan di Aceh.
"Pertama, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga para korban," kata Nurdiansyah, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut dia, Komisi IV tidak ingin pembahasan berhenti pada penelusuran penyebab kecelakaan semata, tetapi menghasilkan rekomendasi konkret untuk mencegah peristiwa serupa terulang.
"Terkait pemanggilan pihak Dinas Perhubungan Aceh maupun operator ASDP, Komisi IV DPRA tentu akan segera menjadwalkannya. Kami ingin memastikan seluruh informasi yang kami terima sudah utuh sehingga rapat pengawasan benar-benar menghasilkan langkah perbaikan yang konkret, bukan sekadar mencari siapa yang salah," ujarnya.
Dalam rapat tersebut, DPRA akan menyoroti kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran, kesiapan penanganan kondisi darurat, efektivitas pengawasan regulator, hingga langkah-langkah yang harus segera diterapkan untuk meningkatkan keamanan transportasi laut.
"Dalam rapat nanti, fokus kami adalah mengevaluasi kepatuhan terhadap standar keselamatan, kesiapan penanganan keadaan darurat, fungsi pengawasan dari regulator, serta langkah-langkah yang harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang," kata Nurdiansyah.
Ia menegaskan, hasil rapat diharapkan tidak berhenti pada aspek administratif atau penentuan pihak yang bertanggung jawab, melainkan menjadi dasar penguatan sistem keselamatan pelayaran di Aceh.
"Bagi kami, yang terpenting bukan sekadar kapan rapat dilaksanakan, tetapi bagaimana rapat tersebut menghasilkan rekomendasi yang benar-benar memperkuat sistem keselamatan pelayaran di Aceh," ujarnya.
Saat ini, Sekretariat Komisi IV DPRA masih mengoordinasikan jadwal rapat dengan seluruh instansi terkait agar pembahasan dapat dilakukan secara komprehensif.
"Target kami dalam waktu dekat rapat tersebut dapat terlaksana. Kami ingin seluruh pihak yang memiliki kewenangan hadir sehingga pembahasannya komprehensif dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi keselamatan masyarakat," kata Nurdiansyah.
Insiden ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026. Hampir satu bulan berlalu, penyebab pasti ledakan pompa hidrolik tersebut belum diumumkan secara resmi kepada publik.
Meski demikian, KMP Aceh Hebat 2 telah kembali melayani lintasan Banda Aceh–Sabang setelah menjalani pemeriksaan awal dan proses investigasi oleh kepolisian. DPRA menilai evaluasi menyeluruh tetap diperlukan untuk memastikan standar keselamatan pelayaran dipenuhi dan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi laut tetap terjaga.
Baca Juga:
