Khalil al-Hayya Resmi Pimpin Hamas, Gantikan Yahya Sinwar yang Tewas Dibunuh Israel
Khalil al-Hayya terpilih sebagai pemimpin baru Hamas setelah mengalahkan Khaled Meshaal dalam pemungutan suara internal.
![]() |
| Hamas menunjuk Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru |
GAZA – Hamas menetapkan Khalil al-Hayya sebagai pemimpin baru organisasi itu untuk menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam operasi militer Israel pada Oktober 2024. Penetapan tersebut dilakukan melalui pemungutan suara internal yang berlangsung dalam dua putaran.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (21/7/2026), al-Hayya mengungguli mantan Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Meshaal, pada putaran kedua pemilihan. Ia sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua Hamas sekaligus anggota dewan kepemimpinan yang beranggotakan lima orang.
Terpilihnya al-Hayya menandai pergantian kepemimpinan Hamas setelah kelompok tersebut kehilangan sejumlah tokoh penting dalam operasi militer Israel sejak 2024. Selain Sinwar, Israel juga menewaskan komandan militer Hamas Mohammed Deif di Gaza dan pemimpin politik Ismail Haniyeh di Teheran.
Dalam beberapa tahun terakhir, al-Hayya menjadi salah satu tokoh sentral Hamas di jalur diplomasi. Ia memimpin tim negosiasi yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel pada Oktober 2025. Namun, kesepakatan itu tidak menghentikan sepenuhnya operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Menurut laporan Al Jazeera, proses pemilihan pemimpin baru Hamas berlangsung selama beberapa bulan karena melibatkan mekanisme internal organisasi.
Media tersebut juga menyebut belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait terpilihnya al-Hayya. Namun, sejumlah pihak di Israel menggambarkannya sebagai figur yang memiliki hubungan dekat dengan Iran dibandingkan negara-negara Arab maupun Turki.
Lahir di Gaza pada 1960, Khalil al-Hayya merupakan salah satu anggota awal Hamas sejak organisasi itu berdiri pada 1987. Ia juga pernah terpilih sebagai anggota parlemen Otoritas Palestina pada 2006.
Dalam beberapa tahun terakhir, al-Hayya lebih banyak beraktivitas di Qatar yang menjadi pusat berbagai perundingan antara Hamas dengan mediator internasional, termasuk Mesir, Amerika Serikat, dan Israel. Posisi tersebut memungkinkannya menjalankan komunikasi diplomatik di luar Jalur Gaza yang masih berada di bawah blokade.
Laporan Al Jazeera juga menyebut al-Hayya telah menjadi sasaran sedikitnya dua upaya pembunuhan oleh Israel dalam dua tahun terakhir. Pada September 2025, ia juga kehilangan putranya dalam serangan Israel terhadap kompleks permukimannya di Doha, Qatar.
Baca Juga:
