Israel Dilaporkan Kekurangan Pasukan Cadangan dan Tank di Tengah Perang Multi-Front
Radio Angkatan Darat Israel menyebut sejumlah brigade cadangan tidak lagi beroperasi dengan kekuatan penuh akibat perang berkepanjangan.
![]() |
| Gambar ilustrasi pasukan Israel |
ISRAEL - – Militer Israel dilaporkan mengalami kekurangan personel cadangan dan tank siap tempur setelah hampir tiga tahun terlibat dalam operasi militer di sejumlah front, termasuk Jalur Gaza, Lebanon, Iran, dan Suriah.
Laporan Radio Angkatan Darat Israel pada Selasa, 14 Juli 2026, menyebut sejumlah brigade dan batalion cadangan kini beroperasi di bawah kekuatan ideal akibat berkurangnya personel dan perlengkapan tempur.
"Unit cadangan saat ini kosong. Sebuah batalion bukanlah batalion penuh, dan sebuah kompi bukanlah kompi yang sebenarnya," kata seorang komandan pasukan cadangan, seperti dikutip Middle East Monitor.
Menurut dia, publik kerap mendengar adanya pengerahan brigade penuh ke Lebanon. Namun, kondisi di lapangan berbeda karena jumlah personel, tank, dan kendaraan tempur jauh di bawah kebutuhan operasional.
"Pada kenyataannya, formasi yang ada jauh lebih kecil. Jumlah tentara, tank, dan kendaraan jauh lebih sedikit," ujarnya.
Ia juga mengakui sebagian formasi cadangan berada dalam kondisi yang nyaris tidak mampu menjalankan fungsi secara optimal.
"Ada unit yang kondisinya lebih baik dan ada pula yang lebih buruk. Semua orang melakukan yang terbaik, tetapi sulit untuk terus beroperasi dalam keadaan seperti ini," katanya.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan kekurangan tank menjadi salah satu persoalan utama. Banyak kendaraan tempur rusak selama operasi militer dan belum dapat kembali digunakan sehingga sejumlah kompi lapis baja cadangan terpaksa beroperasi dengan jumlah tank di bawah standar.
Media tersebut juga mengungkapkan sebuah kompi cadangan baru saja menyelesaikan penugasan di Lebanon dengan hanya satu perwira yang masih bertugas. Komandan kompi telah dibebastugaskan, tidak ada bintara senior, dan unit itu disebut berjalan tanpa rantai komando yang berfungsi.
Sejak Oktober 2023, Israel terlibat dalam konflik di beberapa kawasan secara bersamaan, mulai dari operasi militer di Jalur Gaza, bentrokan dengan kelompok bersenjata di Lebanon, hingga konflik dengan Iran dan kelompok Houthi di Yaman. Militer Israel juga beberapa kali melancarkan serangan ke wilayah Suriah.
Sebelumnya, harian Israel Hayom melaporkan militer berencana mengurangi ribuan personel cadangan pada akhir bulan sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran. Kebijakan itu disebut dipicu meningkatnya beban pembiayaan pertahanan setelah operasi militer berkepanjangan yang menyebabkan defisit anggaran.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari militer Israel yang membantah maupun mengonfirmasi secara rinci laporan mengenai kondisi pasukan cadangan dan kekurangan tank tersebut.
Baca Juga:
