Harga Minyak Dunia Merosot, Analis Ingatkan Ancaman Selat Hormuz Belum Benar-Benar Berakhir
Meski AS-Iran gencatan senjata, analis menilai risiko pelayaran di Selat Hormuz masih tinggi dan dapat kembali mengguncang pasar minyak.
![]() |
| Kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Rabu (24/6/2026), pukul 20.00 WIB, berhasil melintasi titik kritis Selat Hormuz dengan aman. Dok. PIS. |
JAKARTA - Penurunan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasokan global yang sesungguhnya. Sejumlah analis memperingatkan pasar terlalu cepat mengabaikan risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz meski Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati gencatan senjata.
Menurut para analis, aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut memang mulai meningkat. Namun, kondisi operasional belum sepenuhnya pulih seperti sebelum konflik karena banyak perusahaan pelayaran masih memilih bersikap hati-hati.
Managing Director of Investments Tufton Investment Management, Nikos Petrakakos, mengatakan banyak operator kapal belum berani kembali melintasi Selat Hormuz. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan gencatan senjata, potensi ranjau laut, serta tingginya premi asuransi perang masih menjadi pertimbangan utama.
"Walaupun aktivitas mulai meningkat, secara umum kondisinya masih jauh dari situasi sebelum konflik," ujar Petrakakos, dikutip dari CNBC International, Rabu, 1 Juli 2026.
Berdasarkan data TradingView, harga minyak mentah Brent turun 0,42 persen ke level US$72,60 per barel. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya saat konflik memanas beberapa waktu lalu.
Pendiri sekaligus Direktur Riset Energy Aspects, Amrita Sen, menilai pasar masih meremehkan besarnya dampak yang tersisa terhadap aktivitas pelayaran di kawasan Teluk.
Menurut dia, kapal-kapal yang sebelumnya tertahan memang mulai kembali melintasi Selat Hormuz. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran agar kembali mengoperasikan armadanya secara normal.
"Biaya pengiriman saat ini masih sangat tinggi dan jumlah perusahaan pelayaran yang bersedia kembali beroperasi di sana juga masih sangat terbatas," kata Sen.
Iran Dinilai Tetap Ingin Memperkuat Pengaruh
Para analis memperkirakan Iran kecil kemungkinan menerapkan tarif resmi bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Meski begitu, Teheran dinilai tetap berupaya memperbesar pengaruhnya terhadap jalur distribusi energi paling penting di dunia tersebut.
Petrakakos mengatakan komunikasi antara perusahaan pelayaran dan otoritas Iran umumnya berlangsung secara tidak resmi. Banyak operator kapal menghindari hubungan langsung dengan Iran karena khawatir terkena sanksi internasional.
Menurut dia, sebagian operator bahkan memilih mematikan transponder kapal untuk mengurangi risiko pelacakan.
"Sebelum perang, Iran praktis tidak memiliki kendali terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kondisi itu kini telah berubah dan saya tidak melihat Iran akan kembali ke posisi sebelumnya," ujarnya.
Ia menilai Iran kemungkinan akan terus mendorong mekanisme koordinasi yang membuat Selat Hormuz memiliki sistem pengelolaan serupa Terusan Suez atau Terusan Panama.
Sementara itu, Sen menilai skema pungutan resmi terhadap kapal asing sulit diterima negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) maupun perusahaan Barat.
"Iran memanfaatkan pengaruhnya secara agresif untuk menunjukkan bahwa mereka yang mengendalikan pelayaran. Namun, perusahaan-perusahaan Barat tidak akan diizinkan membayar pungutan tersebut," katanya.
Fokus Pasar Beralih ke Persediaan Minyak
Head of Commodity Strategy BNP Paribas Markets 360, Aldo Spanjer, mengatakan perhatian pelaku pasar kini mulai bergeser dari risiko gangguan pasokan menuju proses pengisian kembali cadangan minyak dunia yang sempat berkurang selama konflik.
Menurut dia, banyak negara pengimpor minyak diperkirakan akan meningkatkan cadangan strategis mereka dalam beberapa bulan mendatang.
"Narasi yang berkembang di pasar sekarang adalah bagaimana mengisi kembali seluruh stok yang telah berkurang. Hampir seluruh negara pengimpor minyak akan meningkatkan cadangannya," ujar Spanjer.
BNP Paribas mempertahankan proyeksi harga minyak Brent berada di kisaran US$80 per barel pada akhir 2026. Tambahan pasokan diperkirakan masih dapat diserap pasar seiring meningkatnya kebutuhan membangun kembali persediaan minyak.
Untuk jangka lebih panjang, Spanjer memperkirakan harga Brent bergerak di kisaran US$75 hingga US$85 per barel sepanjang 2027. Setelah cadangan minyak kembali normal, ruang kenaikan harga dinilai akan semakin terbatas karena permintaan untuk membangun stok mulai berkurang.
"Saya tidak melihat harga bisa bertahan di atas US$85 per barel. Sebaliknya, saya juga tidak memperkirakan harga turun di bawah US$75 per barel karena masih ada banyak aksi beli oportunistis di pasar," katanya.
Baca Juga:
