Harga Ayam Peternak Naik 5,5 Persen, MBG Disebut Picu Kenaikan Permintaan
Harga ayam dan telur di tingkat peternak mulai naik setelah dapur Makan Bergizi Gratis kembali beroperasi usai libur sekolah.
![]() |
| Gambar ilustrasi pedagang daging ayam |
JAKARTA – Harga ayam broiler hidup di tingkat peternak naik 5,53 persen dalam sepekan terakhir. Pelaku usaha dan pemerintah menilai kenaikan tersebut dipengaruhi mulai pulihnya permintaan setelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan seiring berakhirnya libur sekolah.
Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 16 Juli 2026 menunjukkan harga ayam hidup di tingkat peternak mencapai rata-rata Rp22.032 per kilogram, naik dari Rp20.878 per kilogram pada pekan sebelumnya. Sementara itu, harga telur ayam ras juga meningkat 2,2 persen menjadi Rp22.989 per kilogram dari sebelumnya Rp22.495 per kilogram.
Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya Parjuni mengatakan pelemahan harga dalam beberapa pekan terakhir dipicu menurunnya konsumsi masyarakat selama bulan Suro di Jawa serta berhentinya sementara operasional Program MBG saat libur sekolah.
"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa sedikit turun, ditambah program MBG off. Jadi permintaan dari masyarakat ikut turun," kata Parjuni, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurut dia, harga mulai bergerak naik setelah sekolah kembali aktif dan dapur MBG kembali beroperasi. Harga telur di tingkat peternak yang sempat berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram, meski masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda juga menilai beroperasinya kembali dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkatkan penyerapan hasil peternak, terutama ayam dan telur.
"Untuk ayam di tingkat peternak harganya sudah Rp22.000 per kilogram sesuai target. Dengan kembalinya beroperasi dapur-dapur SPPG, penyerapan hasil peternak ikut meningkat," ujar Agung.
Menurut Agung, keberlanjutan MBG memberi kepastian pasar bagi peternak. Setiap dapur SPPG membutuhkan pasokan telur sekitar 1,86 ton per bulan sehingga program tersebut dinilai mampu menopang permintaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pelaku usaha berharap pemerintah kembali menggulirkan bantuan pangan berupa telur dan daging ayam seperti program penanganan stunting pada 2023 dan 2024. Saat itu, Badan Pangan Nasional menugaskan ID FOOD menyalurkan bantuan kepada sekitar 1,4 juta keluarga berupa satu kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan selama tiga bulan.
Menanggapi usulan tersebut, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan pelaksanaan kembali bantuan pangan telur dan daging ayam masih menunggu keputusan rapat koordinasi terbatas pemerintah.
"Bantuan pangan telur dan daging ayam belum ada keputusan Rakortas. Jika nanti diputuskan, tentu akan kami laksanakan," kata Ketut.
Meski harga mulai membaik, rata-rata harga telur di sejumlah daerah masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian. Kondisi itu menunjukkan ruang pemulihan harga di tingkat peternak masih terbuka seiring meningkatnya permintaan dari Program Makan Bergizi Gratis dan aktivitas konsumsi masyarakat yang kembali normal.
Baca Juga:
