Gubernur Aceh Apresiasi Peresmian Bendungan Keureuto dan Rukoh, Siap Airi Hampir 27 Ribu Hektare Sawah
Dua bendungan strategis di Aceh diharapkan memperkuat irigasi, ketahanan pangan, pengendalian banjir, serta mendukung pengembangan energi terbarukan.
![]() |
| Gambar ilustrasi |
BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara dan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie. Dua bendungan tersebut dinilai akan memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan layanan irigasi bagi ribuan hektare lahan sawah di Aceh.
"Berfungsinya dua bendungan itu sangat bermanfaat bagi para petani di Aceh," kata Muzakir Manaf, Sabtu, 11 Juli 2026.
Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan strategis nasional secara serentak pada Jumat, 10 Juli 2026. Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, sementara Bendungan Keureuto, Bendungan Rukoh, Bendungan Sidan di Bali, dan Bendungan Jlantah di Jawa Tengah diresmikan secara virtual.
Pemerintah Aceh mengikuti rangkaian peresmian dari kawasan Bendungan Rukoh. Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh hadir mewakili Gubernur.
Nasir mengatakan Pemerintah Aceh mengapresiasi pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, yang telah menyelesaikan pembangunan dua bendungan tersebut.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, atas penyelesaian dua bendungan di Aceh," ujarnya.
Menurut Nasir, Bendungan Keureuto dibangun sejak 2015 dengan nilai kontrak sekitar Rp2,96 triliun, sedangkan Bendungan Rukoh mulai dibangun pada 2018 dengan nilai kontrak sekitar Rp1,7 triliun.
Ia menilai keberadaan kedua bendungan menjadi infrastruktur penting untuk memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, pengendalian banjir, sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan di Aceh.
Secara keseluruhan, Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh diproyeksikan mampu mengairi sekitar 26.889 hektare lahan pertanian.
Bendungan Keureuto memiliki kapasitas tampung sekitar 215 juta meter kubik air. Infrastruktur ini akan melayani irigasi seluas 14.695 hektare, menyediakan air baku sebesar 650 liter per detik, mengurangi potensi banjir di area seluas 627 hektare, serta memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas 6,34 megawatt dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung hingga 179 megawatt.
Sementara itu, Bendungan Rukoh memiliki kapasitas tampung sekitar 128 juta meter kubik air. Bendungan ini akan mengairi 12.194 hektare Daerah Irigasi Baro Raya, memasok air baku sebesar 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir pada kawasan seluas 51 hektare, serta memiliki potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 megawatt dan PLTS berkapasitas 137 megawatt.
Nasir menambahkan optimalisasi dua bendungan tersebut diharapkan mendukung program swasembada pangan nasional melalui peningkatan indeks pertanaman, memperkuat ketersediaan air bagi masyarakat dan kawasan industri, mengembangkan energi hijau, serta mengurangi risiko banjir di wilayah Aceh.
Baca Juga:
