El Nino Super Ancam Pangan Dunia, Harga Beras, Kopi, hingga Minyak Sawit Diprediksi Melonjak
Ekonom memperingatkan El Nino 2026-2027 berpotensi memicu lonjakan harga pangan global dan tekanan inflasi hingga 2028.
JAKARTA – Ancaman lonjakan harga pangan global kembali menguat. Di tengah tekanan akibat konflik geopolitik, para ekonom kini memperingatkan fenomena El Nino berkekuatan sangat besar atau El Nino Super berpotensi memicu gangguan produksi pangan dunia yang dampaknya diperkirakan berlangsung hingga 2028.
Laporan The Guardian, Senin (13/7/2026), menyebut dunia menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni gangguan rantai pasok akibat konflik yang memengaruhi harga energi dan pupuk, serta cuaca ekstrem yang dipicu pemanasan global dan berpotensi diperkuat oleh El Nino.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) sebelumnya mengonfirmasi pemanasan di Samudra Pasifik telah mulai terbentuk. Lembaga tersebut memperkirakan peluang suhu permukaan laut meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas normal mencapai 63 persen pada akhir tahun ini.
Jika berkembang menjadi El Nino sangat kuat, fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan, banjir, gagal panen, dan gangguan distribusi pangan di berbagai negara.
Para ekonom menilai kondisi itu datang ketika banyak negara masih menghadapi tingginya biaya hidup akibat inflasi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan harga pangan dikhawatirkan kembali mendorong inflasi global dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Analis UniCredit menyebut fenomena tersebut kembali memunculkan risiko climateflation, yakni inflasi yang dipicu perubahan iklim.
"Gelombang panas yang baru-baru ini melanda Eropa menjadi pengingat bahwa kondisi dasar iklim telah berubah. El Nino dapat menambah tekanan baru pada akhir tahun ini karena memperkuat dampak pemanasan global," tulis UniCredit dalam laporan risetnya.
Fenomena El Nino sebelumnya telah beberapa kali memicu gangguan produksi pangan dunia, termasuk pada 1981-1982, 1997-1998, 2015-2016, dan 2023-2024. Namun, sejumlah proyeksi memperkirakan siklus 2026-2027 berpotensi lebih kuat dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Goldman Sachs memperkirakan El Nino kali ini dapat mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga 15,8 persen. Sementara itu, UniCredit memperingatkan produksi pertanian dunia berpotensi turun 14,3 persen atau setara kehilangan output sekitar US$342 miliar.
Menurut UniCredit, harga sejumlah komoditas pangan utama dapat melonjak tajam.
"Harga komoditas utama dapat naik 10 hingga 50 persen, sedangkan beras, minyak sawit, gula, dan kopi berpotensi meningkat 50 hingga 100 persen atau bahkan lebih tinggi," tulis lembaga tersebut.
Dampak El Nino diperkirakan tidak langsung terasa. Goldman Sachs memperkirakan pengaruh ekonomi secara penuh baru terlihat pada paruh kedua 2028 karena cuaca ekstrem memengaruhi siklus tanam, pertumbuhan tanaman, hingga masa panen yang berbeda-beda.
Selain produksi, distribusi pangan juga diperkirakan menghadapi tekanan akibat turunnya permukaan air di sungai dan kanal yang menjadi jalur utama pengangkutan komoditas.
Meski demikian, dampak El Nino diperkirakan berbeda di setiap kawasan. UBS menilai perubahan pola curah hujan dan suhu global akan menciptakan wilayah yang terdampak negatif maupun yang justru memperoleh keuntungan.
India menjadi salah satu negara yang mulai merasakan dampaknya. Goldman Sachs mencatat curah hujan monsun tahun ini jauh di bawah normal sehingga berpotensi memengaruhi produksi gandum, beras, dan tebu.
Di Asia Tenggara, kekeringan diperkirakan menekan produksi minyak sawit, kopi, dan kakao. Kondisi cuaca yang lebih hangat juga berisiko mempercepat penyebaran penyakit tanaman yang dapat mengurangi hasil panen pada musim berikutnya.
Sementara di Eropa, para analis memperkirakan dampak terbesar El Nino bukan berasal dari perubahan cuaca secara langsung, melainkan dari kenaikan harga pangan global yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di kawasan tersebut.
Baca Juga:
