Biaya Gagal Ginjal BPJS Melonjak 476 Persen, Kemenkes Soroti Ancaman Penyakit Kronis
Pembiayaan gagal ginjal menjadi yang paling tinggi kenaikannya dalam program JKN, mencerminkan meningkatnya beban penyakit tidak menular.
![]() |
| Gambar ilustrasi pelayanan BPJS Kesehatan |
JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti lonjakan pembiayaan penyakit kronis dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), terutama untuk penanganan gagal ginjal. Dalam enam tahun terakhir, biaya layanan gagal ginjal yang ditanggung BPJS Kesehatan meningkat 476,2 persen, dari Rp2,32 triliun pada 2019 menjadi Rp13,38 triliun pada 2025.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan perubahan pola penyakit di Indonesia yang kini didominasi penyakit tidak menular.
"BPJS itu bayarnya apa sih? Bayarnya operasi jantung, operasi stroke, lalu hemodialisis. Hemodialisis itu cuci darah. Jadi dia bayarnya mahal di situ. Nah, ini kenyataan pada saat ini," kata Maria dalam seminar nasional Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Berdasarkan Laporan Pengelolaan Program JKN, gagal ginjal menjadi penyakit dengan kenaikan pembiayaan tertinggi. Selain itu, biaya penanganan penyakit jantung meningkat dari Rp10,28 triliun menjadi Rp17,35 triliun atau naik 68,8 persen selama periode 2019–2025.
Pembiayaan kanker juga melonjak dari Rp3,81 triliun menjadi Rp10,31 triliun atau meningkat 170,2 persen. Sementara itu, biaya penanganan stroke bertambah dari Rp2,55 triliun menjadi Rp7,21 triliun atau naik 182,9 persen.
Maria mengatakan tren tersebut sejalan dengan meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskular yang kini mendominasi penyebab kematian di Indonesia. Pada 2023, stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi, disusul penyakit jantung iskemik yang naik dari peringkat keempat pada 2009 menjadi peringkat kedua.
Di sisi lain, diabetes kini menempati peringkat keempat penyebab kematian, sedangkan gagal ginjal yang sebelumnya tidak masuk dalam 10 besar telah berada di posisi kesepuluh.
"Sebagian besar penyebab kematian yang sekarang mendominasi 10 besar adalah penyakit kardiovaskular," ujarnya.
Menurut Maria, meningkatnya kasus penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal berkaitan erat dengan tingginya faktor risiko di masyarakat, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, serta pola konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Ia menjelaskan diabetes dipengaruhi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, sedangkan hipertensi berkaitan dengan konsumsi garam berlebih. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya prevalensi obesitas yang memicu dislipidemia dan berbagai penyakit kardiovaskular.
"Kalau kita lihat faktor risikonya, kenapa bisa jantung, kenapa bisa stroke, kenapa bisa gagal ginjal, itu sangat dipengaruhi oleh diabetes, hipertensi, dan obesitas yang berkaitan dengan pola makan," katanya.
Maria menilai tingginya angka penyakit tidak menular menjadi tantangan besar di tengah upaya pemerintah memanfaatkan bonus demografi dalam 10 hingga 15 tahun mendatang. Menurut dia, meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang menderita penyakit kronis berpotensi menurunkan produktivitas nasional sekaligus memperbesar beban pembiayaan kesehatan.
Baca Juga:
