40 Ribu Hektare Sawah Pascabencana Mulai Pulih, Pemerintah Aceh Kebut Rehabilitasi 16 Ribu Hektare Lagi
Sebanyak 40.852 hektare sawah telah dipulihkan, sementara 16.633 hektare lainnya masih menunggu rehabilitasi pascabencana hidrometeorologi.
BANDA ACEH – Pemerintah Aceh telah merehabilitasi dan mengoptimalkan 40.852 hektare lahan sawah yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Namun, masih terdapat 16.633 hektare lahan pertanian dengan kategori rusak berat dan hilang yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Pemulihan lahan tersebut dikoordinasikan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang didukung Kementerian Pertanian.
Berdasarkan data Distanbun Aceh, bencana hidrometeorologi menyebabkan kerusakan pada 57.485 hektare sawah di berbagai daerah. Rinciannya, 27.437 hektare mengalami kerusakan ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, dan sekitar 120 hektare sawah hilang.
Pelaksana Tugas Kepala Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia, menyebutkan hingga kini rehabilitasi dan optimalisasi lahan yang telah maupun sedang berjalan mencapai 40.852 hektare. Sementara sisanya sekitar 16.633 hektare masih memerlukan penanganan lebih lanjut.
"Masih ada sekitar 16.633 hektare yang belum tertangani, terutama untuk sawah dengan kategori rusak berat dan sawah yang hilang," kata Azanuddin dalam laporannya kepada Gubernur Aceh.
Pemulihan lahan menjadi salah satu langkah pemerintah mengembalikan produktivitas sektor pertanian setelah bencana yang melanda sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir. Gerakan tanam padi di lahan yang telah direhabilitasi juga mulai dilakukan, antara lain di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, setelah sebelumnya dilaksanakan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengapresiasi kinerja Distanbun Aceh yang dinilai mampu mempercepat pemulihan lahan pertanian sekaligus meningkatkan dukungan pemerintah pusat.
Menurutnya, alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian meningkat dari Rp380 miliar pada tahap pertama menjadi Rp515 miliar pada tahap kedua untuk mendukung rehabilitasi lahan pertanian di Aceh.
"Gubernur menginstruksikan agar koordinasi dengan Kementerian Pertanian, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, TNI, Polri, serta berbagai pihak terus diperkuat agar seluruh program berjalan sesuai target," kata Nurlis.
Rehabilitasi Bertahap
Program pemulihan dilakukan sesuai tingkat kerusakan lahan. Untuk sawah dengan kerusakan ringan, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp155,66 miliar yang mencakup 27.071 hektare di 16 kabupaten/kota. Hingga kini pekerjaan fisik telah berkontrak seluas 22.126 hektare.
Sementara rehabilitasi sawah rusak sedang mencakup 13.781 hektare di 11 kabupaten dengan dukungan anggaran Rp186,04 miliar. Progres pengerjaan mencapai sekitar 4.393 hektare atau 32 persen dari target.
Pemerintah juga membangun berbagai infrastruktur pendukung, antara lain 641 unit irigasi perpompaan, 149 unit irigasi perpipaan, 45 bangunan konservasi, 300 jaringan irigasi tersier, serta 106 unit Jalan Usaha Tani (JUT).
Secara keseluruhan, realisasi keuangan seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian pascabencana mencapai 48,48 persen hingga 21 Juli 2026.
Pemerintah Aceh menargetkan percepatan rehabilitasi tidak hanya memulihkan lahan yang rusak akibat bencana, tetapi juga mengembalikan produktivitas pertanian dan mendukung peningkatan kesejahteraan petani di wilayah terdampak.
Baca Juga:
