150 Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Target Swasembada Pangan Ikut Dipertaruhkan
Bibit padi yang telah disiapkan petani di Cot Girek terancam rusak akibat minim pasokan air dan belum tersedianya jaringan irigasi.
ACEH UTARA - Lebih dari 150 hektare sawah di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, terancam gagal tanam akibat tidak tersedianya pasokan air. Kondisi ini tidak hanya mengancam penghasilan petani, tetapi juga berpotensi menghambat upaya peningkatan produksi beras dan program swasembada pangan yang tengah didorong pemerintah.
Krisis air terjadi di areal persawahan Desa Alue Drien, Seuneubok Baro, U Baro, dan Ceumpeudak. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Desa Matang Teungoh, Pucok Alue, dan Batu 12.
Sebagian besar petani sebenarnya telah mempersiapkan musim tanam. Bibit padi yang rata-rata telah berusia sekitar 30 hari kini menunggu dipindahkan ke lahan. Namun, sawah yang mengering membuat proses tanam terhenti sehingga bibit terancam rusak apabila hujan tak segera turun.
Muslem, petani di Desa Ceumpeudak, mengaku sempat menanam sebagian lahannya ketika air masih tersedia. Akan tetapi, penanaman tidak dapat dilanjutkan karena sawah kembali mengering.
"Baru sebagian yang sempat ditanam saat masih ada air. Sekarang sawah sudah kering sehingga penanaman terpaksa dihentikan. Kami hanya mengandalkan air hujan," ujarnya.
Geuchik Seuneubok Baro, Jon Junaidi, mengatakan hingga kini petani di wilayah tersebut masih bergantung sepenuhnya pada curah hujan karena belum memiliki jaringan irigasi. Jika kondisi ini berlanjut, bibit yang telah disiapkan berpotensi rusak dan musim tanam bisa gagal.
"Kalau hujan tidak segera turun, bibit yang sudah disemai bisa rusak dan petani berisiko gagal tanam. Dampaknya tentu bukan hanya kerugian bagi petani, tetapi juga mengurangi produksi padi," katanya.
Menurut Jon, persoalan ini menunjukkan masih rentannya sektor pertanian di wilayah Cot Girek terhadap perubahan cuaca. Ketergantungan pada hujan membuat petani kesulitan menjaga keberlangsungan musim tanam setiap kali musim kering datang.
Karena itu, para petani berharap pemerintah segera menghadirkan solusi melalui pembangunan jaringan irigasi maupun penyediaan sumber air alternatif. Infrastruktur pengairan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar musim tanam tidak terus bergantung pada kondisi cuaca.
Ancaman terhadap ratusan hektare sawah di Cot Girek memperlihatkan bahwa keberhasilan program swasembada pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan benih dan pupuk, tetapi juga pada kepastian pasokan air. Tanpa dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, produktivitas pertanian akan tetap rentan terganggu setiap kali musim kemarau datang.
Baca Juga:
