Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor

Gejolak global mulai mereda. Pelaku industri optimistis semester II/2026 lebih cerah meski daya beli domestik masih jadi tantangan.
Masjid Baiturrahman Banda Aceh ini dibangun pada tahun 1879

JAKARTA – Industri pariwisata Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada paruh kedua 2026. Setelah menghadapi tekanan akibat gejolak geopolitik global dan melemahnya daya beli masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah kini melihat peluang pertumbuhan yang lebih baik seiring meredanya ketidakpastian internasional.

Optimisme itu muncul di tengah kinerja sektor pariwisata yang masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun lalu. Pemerintah menilai pariwisata tetap menjadi salah satu penopang penting ekonomi nasional, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun perolehan devisa.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan pertumbuhan pariwisata Indonesia masih berada di atas rata-rata global. Mengutip data UN Tourism, jumlah kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia mencapai 1,52 miliar perjalanan pada 2025, meningkat lebih dari 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Indonesia, menurut Widiyanti, mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.

“Pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 10,8 persen pada periode yang sama, jauh melampaui rata-rata global,” kata Widiyanti saat membuka Travel Meet Asia 2026 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa, 23 Juni 2026.

Selain peningkatan jumlah wisatawan, sektor pariwisata juga mencatat capaian ekonomi yang signifikan. Pemerintah mencatat devisa pariwisata mencapai US$18,27 miliar pada 2025, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Sektor ini juga menopang sekitar 25,9 juta lapangan kerja dan mendorong aktivitas ekonomi daerah melalui lebih dari 6.200 desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah.

Namun pemerintah menegaskan fokus pembangunan pariwisata ke depan tidak semata mengejar jumlah kunjungan. Konsep pariwisata berkualitas atau quality tourism menjadi arah utama yang diusung untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

“Kami mengundang para pembeli, penjual, dan mitra internasional untuk terus memilih Indonesia sebagai destinasi pilihan dan menjajaki peluang kolaborasi baru,” ujar Widiyanti.

Hotel dan Restoran Masih Menanggung Dampak Semester Pertama

Di tingkat pelaku usaha, pemulihan belum sepenuhnya merata. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, mengatakan gejolak di Timur Tengah dan kenaikan harga bahan bakar minyak pada semester pertama tahun ini turut meningkatkan biaya operasional industri perhotelan.

Kenaikan harga BBM sejak April 2026 berdampak pada biaya logistik dan bahan baku, terutama untuk kebutuhan makanan dan minuman hotel.

“Hotel rata-rata menyesuaikan harga menu restoran antara 5 persen sampai 12 persen,” kata Hariyadi.

Menurut dia, tekanan tidak hanya datang dari sisi biaya. Daya beli wisatawan domestik juga belum sepenuhnya pulih. Meski jumlah perjalanan masih meningkat, pengeluaran wisatawan cenderung lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dari volume wisatawan, trafiknya masih naik, tapi spending-nya kecil,” ujarnya.

PHRI juga mencatat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas perjalanan dinas kementerian dan lembaga memberikan dampak langsung terhadap tingkat hunian hotel, terutama di kota-kota yang selama ini bergantung pada kegiatan pemerintahan.

Harapan dari Wisatawan Asia

Meski demikian, pelaku industri melihat sejumlah faktor yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan pada semester kedua tahun ini.

Hariyadi menilai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menurunkan tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global. Kondisi tersebut diharapkan memberi ruang bagi industri pariwisata untuk kembali tumbuh lebih sehat.

Selain itu, strategi promosi yang berfokus pada pasar jarak dekat atau short-haul market mulai menunjukkan hasil.

Wisatawan dari negara-negara Asia, terutama Malaysia dan India, menjadi salah satu penopang utama kunjungan ke Indonesia ketika sejumlah pasar tradisional mengalami perlambatan.

“Semester I ada pengaruh perang Iran yang berdampak terhadap jumlah kunjungan ke Indonesia secara keseluruhan, tetapi semester II pasti akan lebih baik. Kita bersyukur wisatawan seperti dari Malaysia dan India banyak masuk,” kata Hariyadi.

Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies, Budijanto Ardiansjah. Menurut dia, pasar Asia Tenggara masih menjadi sumber pertumbuhan yang menjanjikan bagi industri pariwisata nasional.

Budijanto mengatakan promosi ke Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara Asia lainnya akan terus diperkuat karena terbukti memberikan hasil positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.

“Memang ada peningkatan kunjungan, terutama dari Malaysia dan Singapura. Saya rasa akan tetap dilakukan, karena kalau bagus, kenapa tidak,” ujarnya.

Daya Beli dan Kemudahan Visa Jadi Pekerjaan Rumah

Di balik optimisme tersebut, sejumlah tantangan masih membayangi industri pariwisata nasional. Budijanto menilai keterbatasan anggaran promosi akibat kebijakan efisiensi membuat Indonesia belum leluasa menjangkau pasar wisata baru yang potensial.

Ia juga mendorong pemerintah mempercepat berbagai kebijakan yang dapat meningkatkan daya saing destinasi nasional, termasuk penyederhanaan administrasi perjalanan dan perluasan fasilitas bebas visa bagi wisatawan asing.

Faktor lain yang dinilai krusial adalah daya beli masyarakat. Stabilitas nilai tukar rupiah dan harga energi akan sangat menentukan kemampuan wisatawan domestik untuk melakukan perjalanan.

“Yang kita harapkan adalah pariwisata yang berkualitas, bukan hanya ramai. Wisatawan juga berbelanja, menginap di hotel, dan menggerakkan ekonomi daerah,” kata Budijanto.

Bagi industri pariwisata, semester kedua 2026 menjadi momentum penting untuk menguji daya tahan sektor ini setelah melewati berbagai tekanan global. Jika tren positif terus berlanjut, pariwisata berpeluang kembali menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang paling menjanjikan.[]
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor
  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor
  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor
  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor
  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor
  • Pariwisata Indonesia Mulai Bangkit, Wisatawan Asing Naik Dua Digit dan Devisa Pecah Rekor