Museum Tsunami Aceh Bawa Kisah Pemulihan Pascabencana ke Forum Internasional yang Disponsori Iran
Kurator Museum Tsunami Aceh memaparkan transformasi museum dari ruang arsip menjadi pusat edukasi dan mitigasi bencana.
BANDA ACEH — Museum Tsunami Aceh memperkenalkan pengalaman Aceh dalam merawat ingatan kolektif pascabencana kepada komunitas permuseuman dunia melalui webinar internasional bertajuk Museum Centered Cultural Dialogues.
Dalam forum yang mempertemukan sejumlah pakar museum dari berbagai negara itu, Kurator Museum Tsunami Aceh, Cut Intan Damayanti, menjadi salah satu panelis utama. Ia menyampaikan presentasi berjudul Preserving Memories and Inspiring Future yang mengangkat peran museum dalam menjaga memori tragedi sekaligus membangun kesadaran masa depan.
Forum yang didukung Pemerintah Republik Islam Iran tersebut membahas peran museum sebagai ruang dialog budaya dan sarana memperkuat pemahaman lintas bangsa. Bagi Aceh, kesempatan itu menjadi ajang untuk memperkenalkan pengalaman pengelolaan memori tsunami 2004 sebagai bagian dari pendidikan mitigasi bencana.
Cut Intan mengatakan fungsi museum saat ini tidak lagi terbatas sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah. Menurut dia, museum harus mampu menjadi ruang hidup yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
"Museum harus mampu merawat ingatan atas tragedi masa lalu, baik karena perang, konflik maupun bencana alam, lalu mengubah memori tersebut menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih aman dan tangguh di masa depan," kata Cut Intan dalam forum tersebut.
Webinar itu juga menjadi kelanjutan dari komunikasi yang telah terjalin antara Museum Tsunami Aceh dan pihak Iran. Sebelumnya, Penasihat Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Yahya Jahangiri, pernah berkunjung ke Aceh dan menjajaki peluang kerja sama kebudayaan.
Dalam diskusi tersebut, pengalaman masyarakat Aceh bangkit dari bencana tsunami dinilai memiliki sejumlah kesamaan dengan pengalaman masyarakat Iran dalam menghadapi dampak perang dan proses pemulihan sosial.
Ke depan, kerja sama yang dijajaki tidak hanya terbatas pada forum diskusi daring. Sejumlah agenda kolaborasi disebut tengah dipertimbangkan, mulai dari pertukaran program kuratorial, penelitian sejarah bersama, hingga penyelenggaraan pameran kolaboratif antara Museum Tsunami Aceh dan sejumlah museum di Iran.
Bagi Museum Tsunami Aceh, forum internasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan pendekatan Aceh dalam mengubah pengalaman bencana menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.
Baca Juga:
