Harga Gas Industri Naik, Bahlil Panggil Dirut PGN, Ancaman PHK 50 Ribu Pekerja Mengemuka
Lonjakan harga gas industri di Jawa Barat–Banten memicu intervensi Presiden Prabowo, pemerintah bahas ulang skema HGBT
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memanggil Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Arief Setiawan Handoko untuk membahas penyesuaian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga gas industri di sejumlah wilayah.
Presiden Prabowo Subianto disebut memberi perhatian khusus terhadap kenaikan harga tersebut karena berdampak pada sektor industri dan potensi gangguan ketenagakerjaan.
Bahlil mengatakan, Presiden menghubunginya langsung saat perjalanan untuk meminta agar persoalan itu segera ditangani.
“Pak Presiden telepon saya di jalan soal ini. Pak Arief, habis ini ikut saya. Kita bahas tentang gas untuk industri,” kata Bahlil dalam keterangan resmi.
Ia menyebut harga gas industri di Jawa Timur masih relatif stabil. Namun kenaikan signifikan terjadi di Jawa Barat, Banten, Bekasi, hingga Jakarta.
Menurut Bahlil, salah satu pemicu kenaikan harga adalah penurunan produksi gas domestik. Kondisi itu mengganggu pasokan melalui jaringan pipa dan memaksa pemenuhan kebutuhan industri dialihkan ke Liquefied Natural Gas (LNG) yang lebih mahal.
“Terpaksa kami pakai LNG. Sehingga harganya memang naik. Ini yang harus dicari jalan tengah,” ujarnya.
Di sisi lain, lonjakan harga gas mulai memunculkan kekhawatiran di sektor ketenagakerjaan. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut parlemen siap melakukan mitigasi atas potensi pemutusan hubungan kerja dalam skala besar.
Laporan yang disampaikan Ketua Umum KSPSI Andi Gani Nena Wea menyebutkan, lebih dari 50 ribu pekerja di salah satu pabrik keramik besar di Bekasi berpotensi terdampak PHK jika situasi tidak segera diintervensi.
Ia memperkirakan risiko tersebut dapat terjadi dalam 7 hingga 10 hari ke depan apabila harga gas industri tidak segera dikendalikan.
Baca Juga:
