Bank Sentral Dunia Masih Borong Emas, Tapi Laju Pembelian Diprediksi Mulai Melambat
Survei WGC menunjukkan mayoritas bank sentral masih ingin menambah cadangan emas. Namun, konflik geopolitik dan suku bunga tinggi membatasi akselerasi
JAKARTA – Bank-bank sentral di berbagai negara diperkirakan masih akan melanjutkan pembelian emas hingga akhir 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Namun, laju akumulasi logam mulia diperkirakan tidak lagi seagresif beberapa tahun terakhir karena ketidakpastian geopolitik dan tingginya suku bunga global membuat pengelola cadangan devisa lebih berhati-hati.
Survei terbaru World Gold Council (WGC) yang dikutip Kitco News menunjukkan minat bank sentral terhadap emas masih tetap tinggi. Sebanyak 79 bank sentral berpartisipasi dalam survei tersebut, menjadi jumlah responden terbesar sejak survei itu pertama kali dilakukan.
Hasil survei menunjukkan 89 persen responden memperkirakan kepemilikan emas bank sentral di seluruh dunia akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, 45 persen responden menyatakan institusinya berencana menambah cadangan emas, naik dibandingkan 43 persen pada survei tahun sebelumnya.
Meski demikian, analis Société Générale (SocGen) menilai rencana pembelian tersebut belum tentu langsung terealisasi. Menurut mereka, bank sentral cenderung lebih berhati-hati dalam mengeksekusi strategi investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Dalam risetnya, SocGen menyebut pengelola cadangan devisa umumnya memiliki kepastian lebih tinggi terhadap strategi portofolio jangka pendek dibandingkan proyeksi hingga satu tahun ke depan. Karena itu, niat pembelian emas belum tentu berujung pada transaksi dalam waktu dekat.
Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah serta ketidakstabilan pasar energi global dinilai menjadi faktor utama yang membuat banyak bank sentral lebih mengutamakan pengelolaan risiko dibandingkan memperbesar pembelian emas secara agresif.
Meski begitu, SocGen memperkirakan akumulasi emas oleh bank sentral tetap berlanjut. Sepanjang sisa 2026, pembelian diproyeksikan mencapai sekitar 100 hingga 120 ton, hampir dua kali lipat dibandingkan total pembelian selama empat bulan pertama tahun ini.
China Masih Menjadi Tujuan Utama
Data perdagangan Inggris menunjukkan permintaan emas fisik masih kuat. Ekspor emas dari negara tersebut mencapai 35 ton pada April 2026, meningkat tajam dibandingkan 13 ton pada Maret.
China tetap menjadi tujuan utama pengiriman emas. Dari total ekspor tersebut, sekitar 25 ton dikirim ke negara itu, jauh di atas rata-rata historis untuk periode yang sama.
Di sisi lain, cadangan emas yang tersimpan di brankas London Bullion Market Association (LBMA) terus berkurang. Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya permintaan emas fisik di pasar internasional, termasuk dari kalangan bank sentral.
Selain permintaan bank sentral, SocGen menilai arah harga emas dalam beberapa bulan mendatang masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga riil di Amerika Serikat.
Ekonom SocGen memperkirakan imbal hasil riil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun masih bertahan di atas 2 persen hingga kuartal III-2026 sebelum mulai menurun secara bertahap pada akhir tahun.
Selama suku bunga riil tetap tinggi, biaya peluang (opportunity cost) memegang emas juga meningkat sehingga berpotensi membatasi kenaikan harga logam mulia. Sebaliknya, apabila suku bunga mulai turun seiring pelonggaran kebijakan moneter, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai diperkirakan kembali menguat.
Dengan masih tingginya minat bank sentral menambah cadangan emas dan peluang penurunan suku bunga global pada akhir tahun, prospek pasar emas dinilai tetap positif. Namun, arah pergerakan harga logam mulia hingga penghujung 2026 masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan moneter bank-bank sentral utama dunia.
Baca Juga:
