ACF 2026 Hadir dengan Format Kolektif, Peluang Terbuka bagi Pelaku Kuliner dan Ekraf
BANDA ACEH — Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 akan hadir dengan format berbeda. Setelah sembilan kali penyelenggaraan sejak 2014, festival kuliner terbesar di Aceh itu mulai bertransformasi menuju model penyelenggaraan yang lebih terbuka dengan melibatkan masyarakat, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, industri, hingga sektor swasta.
Perubahan tersebut menandai upaya mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sekaligus membangun ekosistem festival yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, mengatakan Aceh Culinary Festival selama ini telah berkembang menjadi sebuah merek acara yang memiliki reputasi dan jaringan kuat di tingkat nasional.
Menurut dia, modal tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan ACF melalui skema kolaboratif yang memungkinkan lebih banyak pihak terlibat dalam penyelenggaraan.
"ACF telah dibangun selama sembilan edisi sebagai sebuah brand event. Reputasi dan jejaring yang sudah terbentuk menjadi modal penting agar festival ini terus tumbuh dengan model yang lebih mandiri, kolaboratif, dan berkelanjutan," kata Dedy, Jumat, 19 Juni 2026.
Melalui skema baru tersebut, kesempatan berpartisipasi akan dibuka bagi pelaku kuliner, komunitas seni, pegiat budaya, pelaku ekonomi kreatif, hingga sektor usaha. Mekanisme pendaftaran akan diumumkan melalui platform digital dalam waktu dekat.
Transformasi ACF dilakukan di tengah rekam jejak festival tersebut yang cukup kuat di tingkat nasional. Sejak 2016, ACF empat kali masuk dalam Top 100 Calendar of Events Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Festival ini juga tiga kali berturut-turut masuk Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) pada 2021 hingga 2023.
Pada 2026, ACF kembali lolos kurasi dan masuk dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara.
Meski mengusung model kolektif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh tetap berperan sebagai sektor utama penyelenggara. Festival dijadwalkan berlangsung pada 11-14 September 2026 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.
Salah satu ikon yang tetap dipertahankan adalah Paviliun Kuliner di anjungan kabupaten dan kota. Area tersebut selama ini menjadi ruang promosi kekayaan kuliner khas dari seluruh daerah di Aceh.
Festival Director ACF, Wan Windi Lestari, mengatakan revitalisasi Taman Ratu Safiatuddin sebagai kawasan budaya berbasis ekonomi kreatif masih menjadi fokus utama penyelenggaraan tahun ini.
Menurut dia, model kolaboratif diharapkan dapat memperkuat fungsi taman budaya tersebut sebagai ruang yang produktif bagi pelaku ekonomi kreatif Aceh.
ACF 2026 juga mencatat capaian baru dalam pengelolaan kekayaan intelektual. Festival tersebut menjadi event pertama di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang telah memperoleh sertifikat merek atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Dedy menilai perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam penguatan industri kreatif dan industri event di Aceh.
Sertifikat merek Aceh Culinary Festival dimiliki bersama oleh Wan Windi Lestari sebagai pendiri dan festival director serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sebagai co-founder.
Dengan model penyelenggaraan baru tersebut, ACF diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi ekosistem kolaboratif yang mampu memperkuat sektor kuliner, budaya, dan ekonomi kreatif Aceh secara berkelanjutan.
Baca Juga:
