Satu Dekade Trans Kutaraja dan Upaya Aceh Menjaga Transportasi Gratis
![]() |
| Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA, saat memberikan sambutan pada acara Tasyakur 1 Dekade Trans Kutaraja 2016-2026, di Depo, Terminal Tipe A Banda Aceh, Rabu, (13/5/2026). |
BANDA ACEH - Suasana di Terminal Tipe A Batoh pada Rabu, 13 Mei 2026, terasa lebih ramai dari biasanya. Sejumlah bus biru-putih berjajar rapi di area terminal. Di tempat itu, Pemerintah Aceh memperingati satu dekade layanan Trans Kutaraja—angkutan massal gratis yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi denyut mobilitas warga Banda Aceh dan Aceh Besar.
Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyebut perjalanan Trans Kutaraja bukan sekadar cerita transportasi publik, melainkan bagian dari pelayanan sosial pemerintah kepada masyarakat.
“Selama satu dekade, Trans Kutaraja mengangkut 10 juta penumpang dan tetap gratis,” kata Nasir.
Angka itu bukan jumlah kecil untuk sebuah layanan transportasi daerah. Dalam sehari, sekitar 2.000 hingga 4.000 penumpang menggunakan bus Trans Kutaraja untuk berbagai keperluan: pelajar menuju sekolah, pekerja menuju kantor, ibu rumah tangga ke pasar, hingga warga yang bepergian untuk aktivitas ibadah.
Di Aceh, keberadaan transportasi gratis seperti ini menjadi pengecualian di tengah banyak daerah yang mulai membatasi subsidi angkutan umum. Namun Pemerintah Aceh memastikan layanan itu tetap dipertahankan pada masa pemerintahan Muzakir Manaf dan Fadhlullah.
“Pemerintah Aceh berkomitmen mendorong pengembangan sistem angkutan umum massal secara bertahap di berbagai kabupaten dan kota lain di Aceh,” ujar Nasir.
Saat ini, sekitar 60 unit bus Trans Kutaraja melayani rute di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dengan menghubungkan kawasan pendidikan, pusat pemerintahan, rumah sakit, pasar, hingga lokasi ibadah.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, mengatakan layanan tersebut menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam mendukung mobilitas masyarakat.
“Trans Kutaraja menjadi saksi perjalanan ribuan pelajar, pekerja, para ibu ke pasar, hingga jemaah ke masjid,” katanya.
Namun menjaga layanan transportasi publik tetap relevan di era digital bukan perkara mudah. Karena itu, pada peringatan satu dekade ini, Dishub Aceh meluncurkan inovasi baru berupa layanan Q-Raja dan Kartu Raja.
Q-Raja merupakan sistem check in berbasis QR code yang memungkinkan penumpang melakukan akses layanan secara digital. Sementara Kartu Raja disiapkan bagi warga yang belum terbiasa menggunakan telepon pintar.
Langkah digitalisasi itu menjadi upaya pemerintah menyesuaikan layanan publik dengan perubahan perilaku masyarakat. Transportasi umum, yang dulu identik dengan antrean manual dan sistem konvensional, kini mulai diarahkan menjadi layanan yang lebih modern dan terintegrasi.
Meski demikian, tantangan Trans Kutaraja ke depan tidak ringan. Selain soal pembiayaan operasional, pemerintah juga harus memastikan layanan tetap nyaman, tepat waktu, dan mampu menarik masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi.
Di Banda Aceh, bus-bus Trans Kutaraja mungkin telah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun setelah sepuluh tahun berjalan, pertanyaan besarnya tetap sama: mampukah transportasi publik gratis ini terus dipertahankan sekaligus berkembang menjadi sistem angkutan massal yang benar-benar menjadi pilihan utama warga Aceh?
Baca Juga:

