Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi

Dinas Kesehatan memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) di SPPG Simpang Buloh

LHOKSEUMAWE - Jarum jam baru menunjuk pukul 03.00 WIB ketika sejumlah petugas Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe mulai memasuki dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Simpang Buloh, Sabtu dini hari pekan ini.

Saat sebagian besar warga masih terlelap, aktivitas di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru mulai sibuk. Bahan baku datang, sayuran dibersihkan, peralatan memasak dipersiapkan, dan petugas dapur bergerak cepat mengejar target distribusi makanan untuk ribuan penerima manfaat.

Namun pagi itu, ritme kerja mereka berada dalam pengawasan ketat.

Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Kesehatan menggelar inspeksi mendadak terhadap seluruh proses pengelolaan pangan di SPPG. Sidak dilakukan sebagai tindak lanjut instruksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sekaligus evaluasi penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) pada sarana penyelenggara makanan.

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh. Petugas memantau alur produksi sejak bahan baku diterima, penyimpanan, pengolahan, proses memasak, hingga pemorsian makanan sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Seluruh ruangan diperiksa menggunakan instrumen Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) serta standar operasional prosedur pengelolaan pangan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Cut Fitri Yani, mengatakan pengawasan sengaja dilakukan sejak dini hari agar seluruh tahapan produksi makanan dapat dipantau secara langsung.

“Pengawasan dilakukan sejak dini hari agar seluruh proses dapat dipantau secara langsung, mulai dari bahan baku datang hingga makanan diporsikan. Kita ingin memastikan makanan yang diberikan sesuai standar keamanan pangan dan tidak menimbulkan risiko kesehatan,” ujarnya saat ditemui di lokasi sidak.

Program MBG yang kini melayani ribuan penerima manfaat membuat aspek keamanan pangan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kesalahan kecil dalam pengelolaan makanan dapat berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat.

Dalam sidak tersebut, tim menemukan sejumlah titik kritis yang dinilai berpotensi memicu kontaminasi silang apabila prosedur higiene dan sanitasi tidak diterapkan secara ketat.

Beberapa temuan yang muncul antara lain ruang penyimpanan bahan baku kering yang masih bercampur dengan bahan lain, genangan air di saluran pembuangan, tidak adanya label pada sampel bahan makanan, hingga penggunaan peralatan yang belum memenuhi standar wadah tara pangan.

Selain persoalan fasilitas, Dinas Kesehatan juga menemukan pola kerja yang dianggap berisiko: proses memasak yang terlalu berorientasi pada kecepatan distribusi, namun mulai mengabaikan standar pengolahan pangan yang semestinya menjadi prioritas utama.

Bagi petugas kesehatan lingkungan, tekanan memenuhi target distribusi makanan dalam jumlah besar memang sering menjadi tantangan di lapangan. Namun percepatan kerja tanpa disiplin sanitasi justru dapat membuka peluang kontaminasi makanan.

Karena itu, Dinas Kesehatan memberi waktu satu minggu kepada pengelola SPPG untuk melakukan pembenahan terhadap seluruh catatan hasil inspeksi.

Pemerintah juga mengingatkan bahwa sanksi administratif dapat dijatuhkan apabila tidak ada tindak lanjut perbaikan, mulai dari teguran hingga pencabutan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.

Cut Fitri Yani menegaskan bahwa program pangan masyarakat tidak boleh hanya mengejar cepat sampai, tetapi juga harus menjamin keamanan konsumsi.

“Jangan hanya fokus pada kecepatan distribusi, tetapi kualitas dan keamanan pangan harus menjadi prioritas utama. Karena makanan yang disiapkan ini dikonsumsi langsung oleh masyarakat, maka seluruh pengelola SPPG wajib taat SOP dan menjaga standar higiene sanitasi secara konsisten,” katanya.

Sidak tersebut turut didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Zainal Abidin, bersama tim kesehatan lingkungan.

Bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe, pengawasan dini hari itu bukan sekadar pemeriksaan rutin dapur umum. Di balik sidak tersebut ada satu hal yang ingin dijaga: memastikan makanan yang sampai ke masyarakat benar-benar aman, layak konsumsi, dan tidak berubah menjadi sumber masalah kesehatan baru.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi
  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi
  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi
  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi
  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi
  • Dini Hari di Dapur MBG Lhokseumawe, Petugas Temukan Sejumlah Titik Rawan Kontaminasi