Waduk Pusong Dibersihkan, Lhokseumawe Perkuat Komitmen Indonesia ASRI
0 menit baca
| Kepala Dinas Kominfo Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, |
LHOKSEUMAWE - Air tak selalu jinak. Di Lhokseumawe, ia kerap datang bersama lumpur dan sampah, meluap tanpa aba-aba. Di situlah Waduk Pusong mengambil peran, sebagai penahan, sekaligus penanda sejauh mana kota ini mengelola risikonya.
Pemerintah Kota Lhokseumawe kini mencoba membalik keadaan. Revitalisasi waduk digulirkan, bukan sekadar untuk mempercantik wajah kota, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana yang kian mendesak. Sedimentasi yang menumpuk selama bertahun-tahun diangkat, sampah dibersihkan, dan pintu air diperbarui agar mampu mengendalikan debit air secara lebih presisi.
Langkah itu selaras dengan arahan Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, yang menempatkan persoalan sampah dan lingkungan sebagai bagian dari ancaman serius. Bagi pemerintah pusat, isu ini bukan lagi urusan kebersihan semata, melainkan menyangkut keselamatan dan keberlanjutan.
“Ini untuk rakyat kita, sampah itu bencana, sampah itu penyakit. Pariwisata tak akan bertahan jika lingkungan kotor,” tegas Prabowo.
Di lapangan, pendekatan itu diterjemahkan secara teknis. Excavator diturunkan untuk mempercepat pengerukan, saluran air dibuka kembali, dan kapasitas tampung waduk ditingkatkan. Dengan fungsi yang pulih, waduk diharapkan mampu meredam potensi banjir, risiko yang selalu mengintai kawasan pesisir dan dataran rendah seperti Pusong.
Kepala Dinas Kominfo Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, menyebut revitalisasi ini sebagai langkah strategis yang menyasar dua sisi sekaligus: lingkungan dan keselamatan. “Pengangkatan sedimentasi dan penggantian pintu air ini penting untuk memastikan pengendalian air berjalan optimal. Ini bagian dari upaya mengurangi risiko banjir,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.
Namun mitigasi, seperti sering terjadi, tak cukup hanya dengan alat berat dan kebijakan. Ia menuntut kesadaran yang lebih sunyi, dari kebiasaan warga membuang sampah hingga cara memandang ruang publik. Taruna mengingatkan, upaya pemerintah akan sia-sia jika tak diikuti perubahan perilaku masyarakat.
Di tengah perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi, kota-kota kecil seperti Lhokseumawe dihadapkan pada pilihan, beradaptasi atau menanggung risiko. Revitalisasi Waduk Pusong menjadi salah satu jawaban, meski belum tentu cukup.
Pada akhirnya, yang sedang dibangun bukan hanya waduk yang lebih bersih atau sistem air yang lebih tertata. Yang diuji adalah kesiapan kota ini menghadapi ancaman yang datang perlahan dan kadang tanpa peringatan.
