BREAKING NEWS

AMSI Aceh Dorong Profesionalisme Pers Lewat UKW di Banda Aceh

Uploaded Image
Wartawan di Aceh berhasil meraih predikat kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW). [Dok panitia]


BANDA ACEH - Di sebuah ruang pertemuan di Hotel Ayani, suasana tak sepenuhnya cair. Selama dua hari, 16–17 April 2026, puluhan wartawan duduk berhadapan dengan penguji, menimbang ulang satu hal yang kerap dianggap selesai: kompetensi.

Sebanyak 26 wartawan dari berbagai media di Aceh dinyatakan kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bersama Asosiasi Media Siber Indonesia Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Mereka datang dari tiga jenjang: 16 wartawan muda, 6 madya, dan 4 utama. Angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, standar kompetensi menjadi batas tipis antara jurnalisme dan sekadar produksi konten.

Ketua AMSI Aceh, Aryos Nivada, menyebut UKW sebagai lebih dari sekadar ritual administratif. “Ini standar penting,” ujarnya. Bagi Aryos, wartawan hari ini menghadapi lanskap yang berubah cepat, informasi bergerak tanpa jeda, sementara tekanan untuk menjadi yang tercepat kian kuat.

Di titik itulah, kata dia, profesionalisme diuji. Bukan hanya soal kecepatan, tetapi ketepatan dan tanggung jawab. “Wartawan harus akurat, berimbang, dan menjaga etika,” katanya. Pernyataan yang terdengar normatif, tetapi justru sering terabaikan.

Di sisi lain, keberadaan wartawan kompeten menjadi semacam benteng terakhir menghadapi banjir hoaks. Informasi yang tak terverifikasi kini beredar lebih cepat daripada klarifikasinya. Dalam situasi itu, publik membutuhkan rujukan dan wartawan diharapkan mengisi ruang tersebut.

Penguji dari Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Asep Setiawan, melihat UKW sebagai instrumen untuk menjaga marwah profesi. “Ini alat ukur,” katanya singkat. Ukuran tentang apakah seorang wartawan masih bekerja dalam koridor kompetensi, atau telah bergeser tanpa sadar.

Menurut Asep, wartawan tak cukup hanya memahami peristiwa di permukaan. Mereka dituntut menggali konteks, membaca isu, lalu menyajikannya dalam bentuk yang bisa dipahami publik. Di situlah kerja jurnalistik menemukan maknanya.

Namun, yang tak kalah penting adalah integritas. Di tengah tekanan ekonomi media dan derasnya kepentingan, menjaga jarak menjadi tantangan tersendiri. UKW, dalam hal ini, bukan sekadar ujian teknis, melainkan juga pengingat etis.

Dua hari di Banda Aceh itu berakhir dengan sertifikat. Tapi seperti diingatkan Aryos, kompetensi tak berhenti di kertas pengakuan. Ia hidup di lapangan, dalam setiap liputan, setiap kalimat, dan setiap keputusan yang diambil wartawan.

Di ruang-ruang redaksi yang makin sunyi, pertanyaan itu terus bergema, apakah kompetensi masih menjadi pijakan, atau hanya formalitas yang dilupakan setelah ujian usai. []
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image