Pendopo Terbuka di Hari Raya, Warga Masih di Tenda: Seremoni di Tengah Luka Bencana yang Belum Sembuh
0 menit baca
BIREUEN- Pintu Pendopo Bupati Bireuen terbuka lebar pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). Tamu silih berganti hadir, hidangan tersaji, dan suasana penuh kehangatan terasa di pusat pemerintahan.
Namun, pada saat yang sama, realitas berbeda masih dialami ratusan warga korban banjir di sejumlah titik di Kabupaten Bireuen.
Di bawah tenda darurat yang mulai rapuh, di atas tanah yang masih lembab sisa genangan, warga bertahan selama berminggu-minggu tanpa kepastian kapan dapat kembali ke rumah mereka. Bagi sebagian warga, Idul Fitri tahun ini tidak identik dengan kebahagiaan, melainkan ketidakpastian.
"Yang satu membuka pintu menyambut tamu, yang lain masih menunggu kapan bisa pulang," ujar seorang warga di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut memunculkan kritik dari berbagai pihak. Termasuk Koordinator Gerakan Rakyat (GeRak) Bireuen, Murni M. Nasir, menilai perayaan di tengah situasi darurat yang belum tertangani sepenuhnya berpotensi mengaburkan prioritas penanganan korban.
"Ketika rakyat masih bertahan di tenda, perayaan kehilangan maknanya. Yang mereka butuhkan bukan seremoni, tetapi kepastian tempat tinggal," kata Murni.
Ia juga menyoroti belum terealisasinya anggaran yang disebut-sebut mencapai Rp 6 miliar, terdiri dari Rp 4 miliar dana pemerintah pusat dan Rp 2 miliar dari kas daerah, yang hingga kini belum berdampak langsung pada penyediaan hunian bagi korban.
"Anggaran itu ada, tetapi implementasinya belum dirasakan masyarakat yang terdampak," ujarnya.
Sementara itu, pernyataan Bupati Bireuen sebelumnya yang menyebut, "kami tidak menolak, tetapi juga tidak mengusulkan," turut menjadi sorotan. Pernyataan tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk kehati-hatian administratif, namun di sisi lain dianggap belum menjawab kebutuhan mendesak para korban.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah inisiatif masyarakat muncul secara mandiri. Murni mengaku membuka rumah pribadinya untuk menampung sementara warga terdampak.
"Ini bentuk kepedulian. Kita tidak bisa menunggu terlalu lama sementara warga membutuhkan tempat yang layak," katanya.
Pengamat kebijakan publik menilai, penanganan pascabencana membutuhkan langkah cepat, terukur, dan berpihak pada korban. Selain penyaluran bantuan darurat, pemerintah daerah juga diharapkan segera memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif.
Idul Fitri sejatinya menjadi momentum kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga, dan merasakan keamanan. Namun bagi sebagian warga Bireuen, makna "pulang" masih menjadi harapan yang belum terwujud.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa di balik perayaan dan seremoni, masih ada tanggung jawab besar yang menuntut penyelesaian segera, memastikan setiap warga yang terdampak bencana dapat kembali menjalani kehidupan yang layak.(MS)