Solidaritas PWI Mengalir ke Dusun Bidari
0 menit baca
ACEH UTARA - Lumpur masih melekat di badan jalan menuju Dusun Bidari, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Mobil harus bergerak perlahan. Di beberapa titik, sisa genangan air belum sepenuhnya surut. Sebuah alat berat masih bekerja membuka saluran air di sisi jalan, upaya terakhir agar kampung itu kembali bisa diakses.
Dusun Bidari termasuk wilayah yang paling parah terdampak banjir dan longsor akhir November 2025. Permukiman di sepanjang Daerah Aliran Sungai Jambo Aye hancur. Sejumlah rumah hanyut, sebagian lainnya rusak berat. Selama lima hari, warga terisolasi tanpa kepastian bantuan.
Di tengah kondisi itu, uluran tangan datang dari para wartawan. Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan yang dihimpun PWI Jawa Timur dan Jurnalis Siaga Bencana PWI Malang Raya kepada warga Dusun Bidari.
Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, mengatakan pemilihan lokasi bantuan dilakukan setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak di lapangan. Hampir semua wilayah terdampak dalam kondisi parah. Namun Dusun Bidari dipilih karena tingkat kerusakan dan kecocokan jenis bantuan yang tersedia.
"Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan yang paling mendesak," kata Nasir, didampingi Sekretaris PWI Aceh, Muhammad Zairin.
Bantuan itu diantar langsung oleh Muhammad Zairin bersama pengurus PWI Aceh Utara, Hasanuddin. Penyerahan dilakukan di Posko Pengungsi Lubok Pusaka dan diterima Ketua Posko, Khairul Minsyah, disaksikan Kepala Dusun Bidari, Rudi Supratman, serta anggota PWI Aceh, Syaiful Anshori.
Lubok Pusaka berjarak sekitar 39 kilometer dari Lhoksukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara. Akses menuju desa itu belum sepenuhnya pulih. Kendaraan biasa masih sulit melintas. Di sejumlah ruas, jalanan berlumpur tebal, memaksa kendaraan menggunakan penggerak empat roda.
Bantuan dari PWI Jawa Timur berisi perlengkapan ibadah—kain sarung, mukena, sajadah, dan peci—serta pakaian muslim anak-anak, seragam sekolah dasar, sembako, dan kebutuhan dapur umum. Sementara Jurnalis Siaga Bencana PWI Malang Raya mengirimkan 10 dus berisi mie instan, beras, snack, pampers, susu balita, pembalut wanita, hingga obat-obatan.
PWI Aceh juga menambahkan pakaian layak pakai hasil donasi anggota dan masyarakat yang dihimpun melalui Posko PWI Peduli Bencana Banjir-Longsor Aceh.
Bagi warga, bantuan itu datang setelah hari-hari panjang tanpa kepastian. "Kampung kami terisolasi selama lima hari setelah banjir. Kami bertahan dengan sisa belanjaan di rumah," kata Khairul Minsyah.
Kini, sebagian besar warga masih tinggal di tenda darurat. Sumber penerangan terbatas. Air bersih sulit diperoleh. Hunian tetap belum terlihat.
"Kami berharap perhatian serius dari pemerintah pusat, terutama untuk listrik, air bersih, dan rumah layak huni," ujar Khairul.
Di Dusun Bidari, banjir memang telah surut. Tapi pemulihan masih panjang. Di antara lumpur yang mengering dan rumah-rumah yang roboh, bantuan dari sesama wartawan menjadi penanda, solidaritas tak selalu datang dari kekuasaan, kadang justru dari mereka yang biasa mencatat peristiwa. []
