Hari Pahlawan di Lhokseumawe, Menyalakan Kembali Api Perjuangan
0 menit baca
LHOKSEUMAWE – "Kemerdekaan tidak jatuh dari langit." Kalimat itu menggema di Lapangan Jenderal Sudirman Korem 011/Lilawangsa, Senin pagi, ketika Kasrem 011/Lilawangsa, Letkol Inf Andi Ariyanto, membacakan amanat Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan 2025.
Di bawah langit yang teduh, para prajurit berdiri tegap. Barisan PNS TNI dan tamu undangan turut menundukkan kepala, mengenang para pahlawan yang telah menanamkan arti kemerdekaan dengan darah dan pengorbanan.
"Para pahlawan bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini," ucap Letkol Andi lantang.
Ia menegaskan, kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan. Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, para pejuang mengorbankan segalanya bukan untuk diri sendiri, melainkan demi masa depan bangsa, demi generasi yang bahkan belum mereka kenal.
Dalam amanatnya, Mensos menekankan tiga teladan utama dari para pahlawan bangsa. Pertama, kesabaran dalam menghadapi perbedaan pandangan dan jalan perjuangan. Kedua, semangat mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. Setelah kemerdekaan diraih, para pahlawan tidak berebut jabatan atau menuntut balasan, melainkan kembali ke rakyat, mengajar, membangun, dan menanam.
Ketiga, pandangan jauh ke depan, semangat pantang menyerah yang menjadi kekuatan bagi generasi penerus untuk menuntaskan cita-cita kemerdekaan.
"Sebagaimana para pahlawan telah memberikan segalanya untuk Indonesia, kini giliran kita menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam," ujar Kasrem membacakan pesan terakhir amanat Mensos.
Ia menutup dengan seruan, "Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan."
Upacara diakhiri dengan penghormatan kepada arwah pahlawan, diikuti para Kasi dan Pasi Korem 011/Lilawangsa, para Komandan Satuan Dinas Jawatan (Satdisjan), serta prajurit dan PNS TNI yang menjadi peserta upacara. Suasana hening sesaat, seakan memberi ruang bagi semangat para pahlawan untuk kembali hidup di dada mereka yang hadir. []
