Jalur Laut Aceh yang Tak Pernah Sepi: Di Balik Pengungkapan 1,3 Ton Ganja dan 80 Kg Sabu oleh Polda Aceh
0 menit baca
BANDA ACEH – Ombak pagi di pesisir Aceh tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu, aparat kepolisian terus berjaga. Sebab di sepanjang garis pantai yang membentang dari Aceh Timur hingga Sabang, ancaman narkoba masih menghantui.
Dalam tiga bulan terakhir, Polda Aceh kembali menorehkan catatan besar: 1,3 ton ganja, 80,5 kilogram sabu, dan 1 kilogram kokain berhasil disita dari berbagai operasi lintas daerah.
"Semua ini hasil kerja sama lintas instansi—dari Ditresnarkoba Polda Aceh, BNNP Aceh, Bea Cukai, hingga jajaran Polres di daerah. Kami bergerak bersama tanpa kompromi," tegas Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Senin (6/10/2025).
Di hadapan wartawan, Kapolda menjelaskan, jalur laut masih menjadi rute utama penyelundupan narkoba jaringan internasional ke Aceh. Barang haram itu biasanya masuk dari perairan perbatasan, kemudian disebar ke sejumlah kabupaten melalui jalur darat.
"Setiap keberhasilan pengungkapan adalah hasil kerja intelijen dan koordinasi di lapangan yang panjang," ujarnya.
Dari hasil operasi selama tiga bulan terakhir, 22 tersangka berhasil dibekuk. Mereka berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dengan beragam modus—mulai dari penyelundupan menggunakan kapal nelayan, hingga memanfaatkan kendaraan pribadi yang disamarkan seperti pengangkut barang harian.
Satu demi satu sindikat narkoba berhasil dibongkar, sebagian bahkan mencoba melawan saat disergap. Namun bagi aparat, tak ada ruang kompromi.
"Kami tidak akan memberikan toleransi terhadap siapa pun, termasuk anggota Polri sendiri. Jika terbukti terlibat dalam sindikat narkoba, tidak ada ampun," tegas Marzuki dengan suara mantap.
Keberhasilan besar itu tak lepas dari sinergi antara Polda Aceh, BNNP, Bea Cukai, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama.
Bupati Gayo Lues yang hadir dalam konferensi pers itu turut menyampaikan apresiasi. "Peredaran narkoba bukan hanya persoalan hukum, tapi juga ancaman terhadap masa depan anak-anak kita. Kami berkomitmen membantu penuh upaya kepolisian," ujarnya.
Aceh dan Perang Panjang Melawan Narkoba
Aceh dikenal sebagai salah satu wilayah transit narkoba lintas negara. Letaknya yang strategis di ujung barat Indonesia, berhadapan langsung dengan jalur laut internasional, sering dimanfaatkan oleh jaringan pengedar lintas batas.
Namun, komitmen aparat dan pemerintah daerah kini makin kuat. Selain penegakan hukum, langkah pencegahan berbasis masyarakat juga terus digalakkan.
"Pemberantasan saja tidak cukup," ungkap Direktur Narkoba Polda Aceh di kesempatan terpisah. "Kami juga mengedukasi masyarakat dan bekerja sama dengan ulama, tokoh adat, serta sekolah-sekolah untuk membangun kesadaran bahaya narkoba."
Gelombang demi gelombang upaya penyelundupan narkoba mungkin belum berhenti, namun tekad aparat dan masyarakat Aceh kini semakin kokoh.
Dari ruang-ruang kecil rapat di Mapolda hingga pos pengawasan di pelabuhan kecil, semangat yang sama terus menyala: menjaga tanah Serambi Mekkah dari ancaman narkoba.
Kapolda Marzuki menutup konferensi pers dengan pesan yang menggugah:
"Perang melawan narkoba tidak bisa dilakukan sendiri. Tapi selama kita bersatu, tidak ada kekuatan yang bisa menaklukkan Aceh." []
