Milad GAM di Aceh Utara Berlangsung Khidmat, Aparat Keamanan Diminta Jangan Halangi

author photoRedaksi
5 Des 2020 - 06:18 WIB

LHOKSUKON -- Peringatan hari ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka yang ke 44 wilayah Samudera Pasee yang ditandai dengan pengerekan bendera bintang bulan berlangsung khidmat. Mantan kombatan GAM kembali meminta kepada aparat keamanan agar tidak selalu menghalangi prosesi sakral tersebut.

Upacara pengerekan bendera bintang bulan dalam rangka memperingati HUT GAM ke 44 wilayah Samudera Pasee dilangsungkan di komplek makam tokoh Aceh Merdeka Dr Mukhtar Y Hasbi, Gampong Tanjong Baroh Geudong Kecamatan Samudera kabupaten Aceh Utara, Jumat pagi (4/12/20) mulai pukul 08:00 WIB.

Kegiatan nan sakral tersebut dihadiri para tokoh GAM daerah II Tgk Chik Di Cot Plieng dan mantan kombatan. Acara tersebut berakhir dengan khidmat yang dikawal pihak keamanan dari Polsek dan Koramil dari kecamatan Samudera.

Amanat Wali Nanggroe dibacakan oleh Tgk Nazaruddin SHI yang juga anggota DPRK Aceh Utara. Wali Nangroe berharap dalam momentum milad GAM yang ke 44 tahun ini menjadi sebuah renungan bersama bagi bangsa Aceh untuk bersatu dan mampu membawa perubahan yang signifikan untuk kemakmuran rakyat Aceh.

Agenda tahunan pengerekan bendera bintang bulan yang selalu menuai kontroversi ikut ditanggapi salah satu mantan kombatan Misbahuddin Ilyas alias Marcos. Pria yang saban tahun bertugas sebagai tim penggerek bendera, kembali menyuarakan keberatannya terkait upaya pihak keamananan yang dia sebut menghalang-halangi pihaknya menlangsungkan milad GAM.

Marcos menyebut pemerintah Indonesia melalui pihak keamanan tidak perlu terus mencurigai aktivitas pihaknya, terutama saat peringatan hari lahir GAM.

Marcos juga mengingatkan para pihak bahwa keberadaan bendera dan lambang Aceh merupakan hasil poin perjanjian damai Aceh di Helsinki, Finlandia pada tahun 2005 lalu.

"Kami ingatkan pada para pihak perundingan di Helsinki jangan buang badan terhadap apa yang telah disepakati di Helsinki Finlandia 2005 lalu" kata Marcos dalam pernyataan tertulisnya.

Marcos juga mengingatkan pemerintah Republik Indonesia untuk tidak memandang GAM sebelah mata karena tidak ada yang bisa menjamin perdamaian ini bisa bertahan lama jika pemerintah Indonesia terus menerus membuat rakyat Aceh kecewa.

"Pemerintah Indonesia tidak serius terkait perdamaian di Helsinki dan ini akan menjadi bom waktu" kata Marcos.

Dia juga mempertanyakan kenapa pemerintah Indonesia melalui pihak aparat kepolisian dan TNI selalu menghalangi acara pengibaran bendera Aceh. "Kami anggap Indonesia itu tidak serius artinya "lempar batu sembunyi tangan" lanjutnya.

Dia melanjutkan, jika pihaknya ingin membuat perayaan besar-besaran, tentu pihaknya bisa mengerahkan massa dalam jumlah besar, namun Marcos menyebut pihaknya tidak melakukan hal itu karena masih taat pimpinan.

"Kami ingatkan pada TNI/Polri untuk tidak lagi menakuti rakyat Aceh saat acara milad GAM. Jangan lagi kerahkan panser Anoa dan militer bersenjata lengkap,karena kami tidak takut itu" ujar pria berperawakan jangkung ini.

Ia menyebut, kalau kita sudah berdamai maka kedua belah pihak bisa menaikan bendera masing-masing di Aceh. Malah pihaknya juga bersedia menaikan bendera merah putih bersamaan dengan bendera Aceh.

"Jika terus menerus pemerintah pusat menghalangi poin dalam MoU Helsinki itu termasuk bendera, dan lain-lain, maka tidak ada yang bisa menjamin perdamaian dunia di Aceh bisa bertahan lama" demikian Misbahuddin Ilyas. []
KOMENTAR