Usaha Garam Aceh Dapat Rp5,1 Miliar, 254 Petambak di Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur Jadi Sasaran
Anggaran pemulihan usaha garam dialokasikan untuk sarana produksi di tiga kabupaten yang terdampak bencana hidrometeorologi
![]() |
| Tim KKP meninjau dapur garam di Kabupaten Pidie. |
THE ATJEH NET — Pemerintah Aceh mengalokasikan lebih dari Rp5,1 miliar untuk memulihkan dan mengembangkan usaha garam rakyat yang terdampak bencana hidrometeorologi. Anggaran tersebut menyasar 254 penerima manfaat di Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur.
Anggaran bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah Tahun Anggaran 2026 melalui program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Safrizal, mengatakan dana tersebut digunakan untuk membangun kembali sarana produksi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha garam masyarakat yang terdampak kondisi cuaca ekstrem.
“Total pagu anggaran yang dialokasikan untuk program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam rakyat di Aceh mencapai lebih dari Rp5,1 miliar,” kata Safrizal di Banda Aceh.
Program itu mencakup pembangunan rumah perebusan dan tungku dapur, tunnel garam berupa rumah kaca, serta penyediaan peralatan pendukung produksi.
Bireuen Dapat Alokasi Terbesar
Dari tiga kabupaten penerima program, Bireuen memperoleh alokasi terbesar, yakni lebih dari Rp2,96 miliar.
Dana tersebut digunakan untuk pembangunan rumah perebusan, tungku dapur, dan sarana produksi bagi 176 penerima manfaat. Penerima tersebar di enam desa yang berada di Kecamatan Jeunib dan Jangka.
Alokasi berikutnya diberikan kepada Aceh Timur sebesar sekitar Rp1,29 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan sarana perebusan, tunnel garam, dan peralatan pendukung bagi 45 penerima manfaat yang tergabung dalam empat kelompok di tiga gampong di Kecamatan Darul Aman.
Sementara Aceh Utara memperoleh alokasi Rp839,64 juta. Anggaran itu digunakan untuk pembangunan tunnel garam dan penyediaan peralatan produksi bagi 33 penerima manfaat yang tergabung dalam tiga kelompok di Kecamatan Dewantara, Lapang, dan Seunuddon.
Jika dirinci berdasarkan alokasi yang disebutkan, ketiga kabupaten tersebut menerima sedikitnya sekitar Rp5,09 miliar. Angka total program disebut Pemerintah Aceh mencapai lebih dari Rp5,1 miliar.
Bukan Sekadar Mengganti Sarana Produksi
Pemerintah Aceh mengarahkan program tersebut tidak hanya untuk memulihkan sarana produksi yang terdampak bencana, tetapi juga memperkuat proses produksi garam rakyat.
Tunnel garam atau rumah kaca, misalnya, dapat digunakan untuk mendukung proses pengeringan ketika kondisi cuaca tidak mendukung metode produksi konvensional. Sementara rumah perebusan, tungku, dan peralatan produksi ditujukan untuk menunjang tahapan pengolahan garam.
Safrizal berharap dukungan tersebut dapat menjaga produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani garam.
“Kami berharap program rekonstruksi, rehabilitasi, dan pengembangan usaha garam ini mampu menjaga kuantitas dan kualitas produksi secara berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan petani garam,” ujarnya.
Dengan program tersebut, pemerintah menempatkan pemulihan sarana produksi sebagai bagian dari penanganan dampak bencana terhadap usaha masyarakat. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada pemanfaatan fasilitas, kondisi cuaca, kapasitas produksi, dan keberlanjutan pasar garam rakyat di masing-masing daerah.
Baca Juga:
