SWIPE UP TO READ

Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi

Biaya tambahan untuk memompa air tak menyurutkan semangat petani perempuan menjaga produksi padi di Aceh Besar saat musim kemarau.
Petani perempuan di Desa Lamreh, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, menanam padi di tengah keterbatasan pasokan air saat musim kemarau.

ACEH BESAR – Perempuan tani di Aceh tetap menggarap sawah di tengah musim kemarau meski harus mengeluarkan biaya tambahan hingga Rp200 ribu untuk memompa air. Upaya itu dilakukan agar lahan tetap produktif sekaligus menjaga pasokan pangan di saat ketersediaan air mulai terbatas.

Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian RI yang bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Darussalam, Aceh Besar, Khaidir, mengatakan ketangguhan petani perempuan menjadi salah satu penopang produksi padi di tengah tantangan perubahan iklim.

"Perempuan tani di Aceh terus membuktikan bahwa mereka menjadi kekuatan utama dalam menjaga produksi pangan. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap mengolah sawah demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional," kata Khaidir, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, Kementerian Pertanian melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terus mendampingi petani agar produktivitas tidak menurun selama musim kemarau. Pendampingan dilakukan melalui peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) serta berbagai program pendukung sektor pertanian.

Program tersebut meliputi penyaluran benih padi, rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan saluran air baru, hingga pengajuan irigasi perpompaan untuk menjamin ketersediaan air di lahan pertanian.

Salah seorang petani perempuan di Desa Lamreh, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Nurmawati, mengaku tetap menanam padi meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengalirkan air ke sawah.

"Untuk memompa air dari saluran yang lokasinya cukup jauh, saya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp200 ribu. Meski begitu, kami tetap berusaha menanam agar sawah tidak terbengkalai," ujarnya.

Menurut Nurmawati, keterbatasan air tidak mengurangi semangat petani untuk mempertahankan musim tanam. Bersama penyuluh pertanian, mereka memanfaatkan sumber air yang masih tersedia agar budidaya padi tetap berlangsung.

"Kami terus mendapat pendampingan dari Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian RI untuk memanfaatkan air dari saluran pembuang sehingga lahan tetap bisa ditanami meski kondisi air terbatas," katanya.

Khaidir menilai, ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kemampuan petani mempertahankan produksi di tingkat lapangan.

Ia mengatakan keberhasilan menjaga produksi padi pada musim kemarau menjadi fondasi penting untuk mendukung target swasembada pangan yang tengah didorong pemerintah.

"Perempuan tani adalah garda terdepan ketahanan pangan. Semangat mereka menjaga sawah di tengah tantangan menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan," ujarnya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi
  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi
  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi
  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi
  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi
  • Perempuan Tani Aceh Tetap Garap Sawah Saat Kemarau, Rogoh Rp200 Ribu demi Air untuk Padi