Pemerintah Aceh Optimistis Pulihkan 57 Ribu Hektare Sawah Pascabanjir, Progres Capai 32 Persen
![]() |
| Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir |
BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menyatakan proses rehabilitasi sektor pertanian dan perkebunan pascabencana hidrometeorologi mulai menunjukkan perkembangan. Hingga awal Juli 2026, program optimalisasi lahan yang dijalankan bersama Kementerian Pertanian telah mencapai sekitar 32 persen dan berlangsung di 18 kabupaten/kota.
Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir mengatakan percepatan pemulihan tersebut menjadi langkah penting untuk mengembalikan produktivitas lahan yang terdampak banjir lumpur sekaligus menjaga ketahanan pangan dan memulihkan perekonomian masyarakat.
"Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pertanian beserta seluruh jajaran Kementerian Pertanian atas dukungan yang diberikan dalam percepatan rehabilitasi sektor pertanian dan perkebunan di Aceh," kata M. Nasir, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut dia, penanganan lahan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Sawah dengan kategori rusak ringan dipulihkan melalui program optimalisasi lahan, sedangkan lahan dengan kerusakan sedang ditangani melalui rehabilitasi khusus. Setelah pekerjaan fisik selesai, lahan akan segera diolah kembali agar dapat dimanfaatkan petani.
Selain memulihkan lahan, pemerintah juga mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. Program tersebut meliputi pembangunan irigasi pompa, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, jaringan irigasi tersier, hingga rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT) untuk memperlancar aktivitas produksi dan distribusi hasil pertanian.
M. Nasir mengatakan kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh diharapkan mampu mempercepat pemulihan puluhan ribu hektare lahan yang terdampak bencana.
"Pemerintah Aceh optimistis melalui kolaborasi ini puluhan ribu hektare lahan yang terdampak banjir lumpur dapat kembali produktif sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional," ujarnya.
Data Pemerintah Aceh menunjukkan bencana hidrometeorologi merusak sekitar 57.364 hektare lahan persawahan dan 60.438 hektare lahan perkebunan. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah akibat banjir lumpur.
Sebagai bagian dari percepatan pemulihan, Pemerintah Aceh telah memulai kembali musim tanam melalui Gerakan Tanam Padi Pascabencana yang dipusatkan di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Menurut M. Nasir, gerakan tersebut menjadi penanda dimulainya kembali aktivitas pertanian di kawasan terdampak setelah sebagian besar lahan yang rusak selesai diperbaiki dan mulai dapat dimanfaatkan kembali oleh petani.
Ia juga mengimbau petani memanfaatkan musim tanam secara optimal dengan memperhatikan kondisi cuaca, memperkuat gotong royong, serta mengikuti pendampingan teknis agar proses pemulihan sektor pertanian dapat berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan. (Adv)
Baca Juga:

