SWIPE UP TO READ

Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy

Pasokan gas hingga 2037 dinilai memperkuat prospek MEDC di tengah kenaikan produksi migas dan ekspansi bisnis kelistrikan.
Gambar ilustrasi

JAKARTA – Kontrak penjualan gas senilai sekitar US$ 1,3 miliar menjadi salah satu faktor yang dinilai akan menopang pertumbuhan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dalam jangka menengah. Prospek tersebut mendorong MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.700 per saham.

Dalam riset tertanggal 15 Juli 2026, analis MNC Sekuritas Christian Sitorus menilai pertumbuhan produksi migas, ekspansi bisnis gas, serta kontribusi sektor ketenagalistrikan akan menjadi pendorong utama kinerja perseroan.

Salah satu katalisnya adalah perjanjian jual beli gas yang telah diteken MEDC dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pertamina Patra Niaga. Kontrak tersebut mencakup pasokan sekitar 159 triliun British thermal unit (TBTU) gas untuk periode 2027-2037 dengan estimasi nilai mencapai US$ 1,3 miliar.

Produksi dari proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada kuartal III 2027 dengan kapasitas sekitar 80 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Selain itu, perpanjangan kontrak penjualan gas dari Corridor Block hingga 2030 dinilai semakin memperkuat stabilitas pendapatan perusahaan.

MNC Sekuritas juga menilai peningkatan kepemilikan MEDC di Corridor PSC menjadi 70 persen akan memperbesar kontribusi lapangan tersebut terhadap produksi perusahaan. Tambahan participating interest diperkirakan meningkatkan produksi sekitar 25 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD).

Di sisi operasional, MEDC membukukan pendapatan US$ 668 juta pada kuartal I 2026 atau tumbuh 19,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut ditopang peningkatan produksi migas sebesar 18,1 persen, setelah perseroan menambah kepemilikan di Corridor PSC serta memulai produksi dari lapangan Forel dan Terubuk.

Segmen kelistrikan juga mencatat pertumbuhan positif. Penjualan listrik mencapai sekitar 1.063 gigawatt hour (GWh) atau meningkat 20,8 persen secara tahunan, didukung meningkatnya utilisasi pembangkit serta ekspansi ELB Gas-fired Power Plant.

Laba bersih MEDC melonjak menjadi US$ 67 juta, naik 282,3 persen dibandingkan kuartal I 2025. Peningkatan tersebut terutama ditopang kontribusi dari investasi di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Meski demikian, margin kotor turun menjadi 34,7 persen dari sebelumnya 40,9 persen akibat meningkatnya basis biaya setelah penambahan aset dan dimulainya produksi sejumlah lapangan baru. Menurut Christian, tekanan margin tersebut bersifat sementara karena aset baru masih berada pada tahap peningkatan produksi menuju kapasitas optimal.

Selain memperkuat bisnis gas, MEDC juga melanjutkan ekspansi regional melalui akuisisi 50 persen participating interest di PSC Cendramas, Malaysia. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan cadangan dan produksi dengan memanfaatkan sinergi infrastruktur di kawasan Laut Natuna Selatan.

Di sektor energi bersih, perseroan mengembangkan proyek panas bumi Ijen Phase I berkapasitas 35 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga surya East Bali Solar PV sebesar 25 MWp. Secara keseluruhan, MEDC kini memiliki portofolio enam pembangkit listrik berbahan bakar gas, dua pembangkit panas bumi, dan dua pembangkit surya.

MNC Sekuritas memperkirakan produksi MEDC mencapai 158 ribu BOEPD pada 2026 dan meningkat menjadi 168 ribu BOEPD pada 2027. Pendapatan perseroan diproyeksikan mencapai US$ 2,67 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$ 2,97 miliar pada 2027.

EBITDA diperkirakan tumbuh menjadi US$ 1,32 miliar pada 2026 dan US$ 1,41 miliar pada 2027, sementara laba bersih diproyeksikan mencapai US$ 227 juta dan meningkat menjadi US$ 242 juta pada tahun berikutnya.

MNC Sekuritas menilai valuasi saham MEDC masih menarik dengan estimasi price to earnings ratio (PER) 2026 sebesar 10,7 kali dan price to book value (PBV) sekitar 1 kali. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti pelemahan harga komoditas, realisasi penyerapan gas, serta potensi keterlambatan peningkatan produksi dari proyek-proyek baru.

Hingga pukul 13.31 WIB, saham MEDC diperdagangkan di level Rp1.235 per saham, turun 1,2 persen pada perdagangan hari itu. Meski demikian, dalam lima hari terakhir saham emiten energi tersebut masih mencatat kenaikan 4,66 persen.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy
  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy
  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy
  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy
  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy
  • Kontrak Gas US$ 1,3 Miliar Jadi Penopang Pertumbuhan Medco Energi, MNC Sekuritas Pertahankan Rekomendasi Buy