Delapan Bulan Pascabanjir, Ratusan Hektare Sawah di Kutablang Bireuen Masih Tertimbun Tanah
Sawah di lima desa belum bisa digarap sejak banjir November 2025. Petani mendesak pemerintah segera membersihkan endapan tanah.
BIREUEN – Delapan bulan setelah banjir besar melanda Kabupaten Bireuen pada 26 November 2025, ratusan hektare lahan persawahan di Kecamatan Kutablang masih tertimbun material tanah. Hingga akhir Juli 2026, para petani mengaku belum dapat kembali mengolah sawah karena belum ada penanganan menyeluruh dari pemerintah.
Lahan yang terdampak tersebar di Desa Krumbok, Jambo Kajeng, Rancong, Cot Ara, dan Ujong Blang. Endapan tanah menutupi permukaan sawah sehingga tidak bisa ditanami. Sebagian lahan bahkan mulai dipenuhi semak belukar akibat terlalu lama terbengkalai.
Abdurrahman, petani asal Kecamatan Kutablang, mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat kehilangan sumber penghasilan utama.
"Kami berharap pemerintah segera membersihkan tanah endapan banjir di sawah kami. Sejak banjir 26 November 2025 sampai sekarang belum ada penanganan sehingga kami belum bisa kembali bertani," katanya.
Menurut dia, kerusakan lahan tidak lagi sekadar menghambat musim tanam, tetapi telah berdampak langsung terhadap ekonomi keluarga petani. Selama sawah tidak dapat digarap, mereka kehilangan pendapatan yang selama ini menjadi penopang kebutuhan sehari-hari.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat segera melakukan normalisasi serta pembersihan material yang menimbun areal persawahan. Langkah tersebut dinilai mendesak agar petani dapat kembali memulai musim tanam.
Selain pemulihan fisik lahan, masyarakat juga berharap pemerintah menyiapkan program bantuan bagi petani yang terdampak. Mereka menilai pemulihan ekonomi perlu berjalan seiring dengan rehabilitasi lahan pertanian.
Kecamatan Kutablang dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian di Kabupaten Bireuen. Karena itu, lambannya pemulihan lahan dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi pendapatan petani, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi pangan di wilayah tersebut.
Warga berharap percepatan penanganan segera dilakukan agar ratusan hektare sawah yang kini terbengkalai kembali produktif dan menjadi sumber penghidupan masyarakat pedesaan.
Baca Juga: