BMKG Deteksi 19 Titik Panas di Aceh, Aceh Besar Jadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak
Sebanyak 19 titik panas terpantau di Aceh. BMKG mengingatkan risiko karhutla meningkat di tengah cuaca kering musim kemarau.
![]() |
| Gambar ilustrasi kebakaran lahan dengan titik api, asap, dan vegetasi kering |
BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 19 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Aceh. Kabupaten Aceh Besar menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, memunculkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau.
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Fitriana Nur, mengatakan titik panas tersebut terpantau berdasarkan hasil pemantauan sensor MODIS pada satelit Terra dan Aqua serta sensor VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20 untuk pengamatan 26 Juli 2026.
"Total ada 19 titik panas yang terpantau di beberapa wilayah Aceh," kata Fitriana, Senin, 27 Juli 2026.
Menurut BMKG, Aceh Besar mencatat 11 titik panas yang tersebar di Kecamatan Indrapuri dan Kuta Cot Glie. Satu di antaranya berstatus high confidence atau tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan 10 titik lainnya berada pada kategori medium confidence.
Kabupaten Aceh Utara berada di urutan berikutnya dengan tiga titik panas di Kecamatan Langkahan. Dua titik lainnya masing-masing terpantau di Kota Banda Aceh, yakni Kecamatan Banda Raya dan Jaya Baru, serta dua titik di Kabupaten Pidie di Kecamatan Mutiara Timur. Satu hotspot lainnya terdeteksi di Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.
Fitriana menjelaskan kondisi cuaca yang relatif kering selama musim kemarau meningkatkan peluang munculnya kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila disertai aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar lahan maupun sampah secara sembarangan.
"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan karena kondisi cuaca yang kering dapat meningkatkan potensi kebakaran," ujarnya.
BMKG juga meminta masyarakat segera melaporkan kepada instansi terkait apabila menemukan titik api di lapangan agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Musim kemarau tahun ini ditandai dengan suhu udara yang meningkat dan curah hujan yang relatif rendah di sejumlah wilayah Aceh. Kondisi tersebut membuat vegetasi lebih mudah mengering sehingga meningkatkan risiko karhutla apabila terjadi pemicu api.
Baca Juga:
