AS Setujui Penjualan Senjata Rp35,5 Triliun ke Arab Saudi di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah
Paket persenjataan senilai US$1,96 miliar disetujui saat ketegangan Saudi, Houthi, Iran, dan AS terus meningkat.
![]() |
| Gambar ilustrasi Arab Saudi Resmi Beli Senjata Rp 35,5 T ke Amerika Baca |
ARAB SAUDI – Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan senjata senilai sekitar US$1,96 miliar atau setara Rp35,56 triliun kepada Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah.
Persetujuan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (15/7) waktu setempat. Paket penjualan itu ditujukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara Arab Saudi ketika kawasan kembali diwarnai eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan kelompok Houthi di Yaman.
Mengutip Reuters, Kamis (16/7/2026), keputusan Washington muncul setelah kelompok Houthi meluncurkan serangan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi awal pekan ini. Serangan itu terjadi setelah pemerintah Yaman menggempur Bandara Sanaa, yang disebut menjadi titik keberangkatan delegasi Houthi.
Kelompok Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan terhadap Bandara Sanaa. Situasi semakin memanas karena Amerika Serikat juga meningkatkan operasi militernya terhadap Iran setelah kembali menerapkan blokade laut.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan senjata tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat mitra strategis Washington di kawasan Teluk.
"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan Sekutu Utama non-NATO yang menjadi kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Wilayah Teluk," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Dalam paket tersebut, Arab Saudi akan memperoleh hingga 20.000 unit Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS) beserta hulu ledaknya. Sistem senjata berpemandu presisi itu dirancang untuk menyerang sasaran dengan tingkat akurasi tinggi sekaligus meminimalkan kerusakan di sekitar target.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, penjualan itu juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman saat ini maupun di masa mendatang, sekaligus memperkuat interoperabilitas dengan militer Amerika Serikat dan negara-negara sekutu.
"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk menangkal ancaman saat ini dan masa depan dengan memperkuat pertahanan tanah airnya, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, regional, dan NATO," tulis lembaga tersebut.
Kontraktor utama dalam proyek tersebut adalah BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Jersey.
Pemerintah AS juga menegaskan bahwa penjualan senjata itu tidak akan memengaruhi kesiapan pertahanan militernya sendiri.
"Tidak akan ada dampak buruk pada kesiapan pertahanan Amerika Serikat sebagai akibat dari usulan penjualan ini," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Penjualan senjata ini menambah daftar dukungan militer Washington kepada sekutu-sekutunya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan kawasan akibat konflik yang melibatkan Iran dan kelompok-kelompok proksinya.
Baca Juga:
