Lelang SUN Diprediksi Tetap Ramai, Investor Domestik Jadi Penopang Utama
Permintaan lelang SUN diperkirakan menembus Rp20 triliun. Investor asing masih selektif dan cenderung memilih instrumen SRBI.
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
JAKARTA - Lelang Surat Utang Negara (SUN) yang digelar pemerintah pada Selasa, 30 Juni 2026, diperkirakan tetap mencatat permintaan tinggi. Minat investor didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, meski partisipasi investor asing diperkirakan belum pulih sepenuhnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendi Manilet memperkirakan total penawaran dalam lelang SUN berpotensi melampaui target indikatif pemerintah sebesar Rp10 triliun.
"Saya melihat permintaan pada lelang 30 Juni berpotensi tetap solid. Total penawaran bahkan bisa melampaui Rp20 triliun untuk target indikatif Rp10 triliun. Namun, kekuatan permintaan kali ini lebih banyak ditopang investor domestik daripada membaiknya sentimen global," kata Yusuf, Ahad, 28 Juni 2026.
Menurut Yusuf, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia secara kumulatif sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen membuat instrumen berdenominasi rupiah semakin menarik. Di sisi lain, imbal hasil SUN tenor 10 tahun telah naik ke kisaran 7,24 persen dari sekitar 6,09 persen pada awal tahun.
Ia menilai kenaikan tersebut menunjukkan pasar telah melakukan *repricing*, sehingga pemerintah tidak perlu lagi menawarkan premi imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik investor.
"Level yield saat ini sudah cukup kompetitif untuk menarik minat investor," ujarnya.
Meski demikian, Yusuf menilai investor asing masih bersikap selektif. Arus keluar modal memang mulai mereda, tetapi sebagian dana global justru mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko durasi yang lebih rendah.
Kondisi tersebut menciptakan efek *crowding out* di pasar obligasi pemerintah, terutama pada tenor pendek. Bahkan, kurva imbal hasil sempat mengalami inversi ketika yield SUN tenor satu tahun berada di atas tenor dua dan tiga tahun.
"Selama SRBI masih menawarkan kombinasi yield yang menarik dan stabilitas nilai tukar tetap menjadi perhatian investor global, partisipasi asing di SUN tenor menengah hingga panjang belum akan kembali secara agresif," katanya.
### Yield Diperkirakan Bergerak Terbatas
Yusuf memperkirakan imbal hasil SUN akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melandai tipis dalam jangka pendek.
Menurut dia, tekanan kenaikan yield mulai mereda setelah mencapai puncaknya pada awal Juni. Perbaikan nilai tukar rupiah turut membantu menahan kenaikan tersebut. Namun, ruang penurunan yield masih terbatas karena kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap besar, pasokan surat berharga negara masih tinggi, inflasi mulai meningkat, serta defisit transaksi berjalan masih menjadi faktor yang menjaga premi risiko Indonesia.
"Dengan kombinasi tersebut, saya belum melihat ruang bagi yield turun secara signifikan dalam beberapa pekan ke depan," ujarnya.
Yusuf memperkirakan seri PBS034 dengan tenor menengah akan menjadi salah satu instrumen yang paling diminati pada lelang kali ini karena menawarkan keseimbangan antara tingkat imbal hasil dan risiko durasi.
Instrumen tersebut diperkirakan menjadi pilihan investor institusi, seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun. Sementara itu, permintaan terhadap Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS) bertenor pendek juga diperkirakan tetap tinggi karena dianggap sesuai untuk penempatan dana jangka pendek dengan risiko relatif rendah.
"Dengan kondisi tersebut, permintaan kemungkinan akan terkonsentrasi pada dua kelompok, yakni SPNS sebagai instrumen parkir likuiditas dan PBS034 sebagai pilihan investasi jangka menengah," kata Yusuf.
Baca Juga:
