Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi

Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengganggu pasokan minyak global. Analis menilai risiko kenaikan harga masih membayangi pasar.

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 58 sen atau 0,8 persen menjadi US$72,57 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 88 sen atau 1,3 persen ke level US$70,11 per barel.

Kenaikan harga dipicu gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memperlambat lalu lintas kapal tanker sehingga memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Analis ING menilai pasar masih dibayangi risiko geopolitik yang tinggi. Menurut mereka, pelaku pasar memang mulai memperhitungkan kemungkinan pemulihan pasokan. Namun, harga minyak masih berpotensi naik apabila proses pemulihan berlangsung lebih lambat dari perkiraan.

Penguatan harga terjadi setelah Brent anjlok 10,6 persen sepanjang pekan lalu, yang menjadi penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Saat itu, harga tertekan karena meningkatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah arus pelayaran sempat membaik.

Situasi kembali berubah sejak Kamis pekan lalu ketika serangkaian serangan terhadap kapal tanker terjadi di Selat Hormuz, termasuk insiden yang melibatkan kapal tanker terkait Qatar. Ketegangan tersebut memicu aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran sehingga meningkatkan kembali kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.

Meski demikian, kenaikan harga minyak tertahan setelah kedua negara sepakat menghentikan sementara aksi permusuhan di kawasan Teluk dan melanjutkan perundingan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Analis ANZ memperkirakan pasar akan meninjau ulang asumsi mengenai cepatnya pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia. Mereka menilai distribusi minyak masih menghadapi hambatan akibat antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, dan terhentinya produksi di sejumlah fasilitas strategis.

Di sisi lain, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, dilaporkan mulai kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura sejak Jumat lalu setelah aktivitas tersebut sempat terhenti hampir empat bulan.

Aktivitas ekspor tetap berlangsung meski sebuah helikopter milik Aramco jatuh di kawasan Ras Tanura pada Ahad, 28 Juni 2026, dan menewaskan 14 orang. Hingga kini penyebab kecelakaan masih diselidiki.

ANZ memperkirakan pasokan minyak baru akan kembali ke tingkat sebelum konflik menjelang akhir tahun. Selama proses pemulihan berlangsung, pasar diperkirakan tetap menghadapi risiko gangguan pasokan yang dapat memicu fluktuasi harga minyak global.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi
  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi
  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi
  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi
  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi
  • Harga Minyak Tembus US$72 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Guncang Pasar Energi