Bireuen
Skandal Seminar Nasional Guru Barbayar di Bireuen Siswa Jadi Korban, Dituding Bisnis Berkedok Kacabdin
BIREUEN- Skandal pelaksanaan Seminar Nasional bertajuk "The Power of Teaching: Menjadi Guru Berpengaruh dan Inspiratif dengan Pendekatan Deep Learning" yang digelar di Universitas Islam Aceh, Paya Lipah, Sabtu-Minggu (31 Mei-1 Juni 2025), menuai kecaman keras dari kalangan pendidik di Aceh. Ratusan guru dari jenjang SMA, SMK, MI hingga pengawas sekolah diduga dipaksa secara halus untuk mengikuti kegiatan yang disinyalir sarat kepentingan bisnis berkedok pelatihan profesional.
Yang paling disorot adalah cara penyelenggaraan seminar ini: undangan yang mencantumkan logo dan kop resmi Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bireuen (Cabdin), lengkap dengan tanda tangan Kacabdin Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd. Surat itu, yang bersifat "penting dan wajib", tersebar ke seluruh sekolah dan memberi kesan bahwa seminar ini adalah program resmi pemerintah-padahal sejatinya diselenggarakan oleh pihak ketiga, Lembaga GRAPENSI, berbasis di Jakarta Timur.
"Ini pemaksaan terselubung. Karena memakai nama Cabdin, kepala sekolah dan guru tidak bisa menolak, meskipun harus membayar Rp250 ribu per orang. Ini bukan pelatihan, ini pungli berjubah seminar," ujar salah seorang guru dari wilayah barat Bireuen yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurutnya, nilai dari seminar itu tidak sebanding dengan biaya yang dipungut. Materi yang disampaikan, katanya, bisa dicari dengan mudah di internet. "Kami cuma dapat sertifikat dan makan siang. Fasilitas minim, manfaat nyaris nihil," ungkapnya geram.
Puncak dari keganjilan itu adalah waktu pelaksanaan seminar yang berlangsung tepat di tengah ujian sekolah. Akibatnya, banyak siswa yang tak diawasi karena guru pengawas harus mengikuti kegiatan tersebut. Ini mengakibatkan terganggunya proses ujian di sekolah, dan mencerminkan lemahnya sensitivitas penyelenggara terhadap kepentingan peserta didik.
"Pendidikan bukan soal panggung seminar, tapi soal hadirnya guru saat murid membutuhkan," kritik keras Kepala SMAN 1 Wilayah Timur, yang kerap dijuluki 'Raja Bireuen'. Ia menyesalkan keputusan pelaksanaan seminar yang dilakukan tanpa koordinasi yang jelas, bahkan tanpa rekomendasi resmi dari Dinas Pendidikan Aceh.
Lebih jauh, ia menilai ini sebagai preseden buruk dalam tata kelola pendidikan daerah. "Mengorbankan siswa demi acara yang sarat kepentingan pribadi adalah pengkhianatan terhadap amanat pendidikan," tegasnya.
Tesk Foto: Surat Edaran Berlogo Kop Pemerintah Aceh, Dinas Pendidikan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen.
Pertanyaan yang Mencuat: Ada Apa dengan GRAPENSI dan Cabdin Bireuen?
Ketidakterlibatan Dinas Pendidikan Aceh dalam merestui kegiatan ini memperkuat dugaan adanya transaksi di balik layar antara Kacabdin Bireuen dan pihak penyelenggara. Muncul pertanyaan besar: apakah seminar ini dilandasi semangat peningkatan mutu guru, atau hanya sekadar proyek dadakan menjelang Idul Adha demi keuntungan sepihak?
"Setiap tahun selalu ada kegiatan seperti ini, menjelang lebaran. Modusnya sama: seminar dadakan, biaya tinggi, manfaat minim. Ini bukan pembinaan guru, ini ladang bisnis," ujar seorang pengawas sekolah.
Ketika guru diwajibkan hadir dan merogoh kocek dalam, siswa justru dikorbankan. Kontras yang mencolok ini memantulkan wajah buram dunia pendidikan lokal: lebih mementingkan seremoni daripada esensi.
Jika benar "The Power of Teaching" ingin mengangkat kualitas guru, maka seharusnya dimulai dengan memuliakan profesi pendidik, bukan memaksa mereka membeli pelatihan setengah hati dan meninggalkan murid di ruang ujian tanpa pengawasan.
Pihaknya, mendesak Dinas Pendidikan Aceh untuk segera mengusut tuntas praktik manipulatif yang melibatkan lembaga pendidikan formal dan pihak ketiga ini. Dunia pendidikan membutuhkan integritas, bukan sandiwara. Jika diam, ini akan terus berulang. Dan yang paling dirugikan tetaplah anak-anak-generasi yang sedang belajar mempercayai sistem yang sudah pincang sejak dari ruang guru.
Terkait Seminar Nasional Guru berbayar tersebut, ketika Media TheAtjehNet. Menkonfirmasi Kacabdin Bireuen. Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd. Minggu 1 Juni 2025, Hannya memberi jawaban singkat, jawaban Kacabdin menghimbau guru, Agar guru Bireuen lebih memahami deep learning, singkatnya. Sementara itu pertanyaan yang diajukan Media ini tidak dijawab kacabdin Bireuen.
Pertanyaan yang tidak dijawab, Kacabdin Bireuen, Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Media TheAtjehNet. Terkait Seminar Nasional Guru yang dibebankan Sebasar Rp 250000 Rb, per orang,
Bedasarkan surat edaran Kacabdin Bireuen ke pihak sekolah untuk dapat mendaftar mengikuti seminar tersebut,
Pertanyaannya, apakah kegiatan itu memiliki surat izin resmi dari Dinas Pendidikan Aceh, "Tidak dijawabnya."
Mengingat kegiatan berjalan dalam suasana Siswa-siswi sedang meningikuti ujian, tentu sangat terganggu dengan ketidak adanya guru di sekolah,"Tidak dijawabnya.(MS)
Via
Bireuen