Aceh Utara
Adv
HL
Kominfo Aceh Utara
Pemkab Aceh Utara Perkuat Dayah sebagai Pilar Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi
LHOKSUKON - Komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai agama kembali ditegaskan melalui program strategis untuk memperkuat peran lembaga pendidikan keagamaan (Dayah). Dalam sebuah pertemuan bersejarah yang melibatkan 263 pimpinan Dayah se-Aceh Utara, pada Senin, 26 Mei 2025 lalu, Pemkab Aceh Utara meluncurkan dua inisiatif utama: peningkatan kesejahteraan pimpinan Dayah dan pelatihan keterampilan hidup bagi para santri.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Aceh Utara ini dipimpin langsung oleh Bupati H. Ismail A. Jalil, SE, MM, yang akrab disapa Ayah Wa. Turut hadir mendampingi, Wakil Bupati Tarmizi (Bang Panyang), Sekretaris Daerah A. Murtala, serta sejumlah pejabat penting lainnya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Dayah Zulkifli dan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Razali. Momen ini menjadi panggung dialog strategis antara pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan Dayah.
Dalam sambutannya, Ayah Wa menekankan bahwa Dayah bukan hanya institusi pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan moral generasi muda Aceh Utara. Ia menyatakan bahwa peran Dayah harus terus diperkuat dengan dukungan nyata dari pemerintah daerah, agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Ayah Wa menegaskan bahwa penguatan pendidikan Dayah merupakan bagian dari misi besar membangun masyarakat Aceh Utara yang berakhlak, cerdas, dan mandiri. Ia menyampaikan bahwa santri dan pimpinan Dayah adalah pilar penting dalam menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi identitas daerah. "Kita ingin santri Aceh Utara tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi dinamika zaman dengan keterampilan hidup yang mumpuni," ujarnya penuh semangat.
Ayah Wa juga mengajak seluruh pimpinan Dayah untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam merancang program-program pembinaan yang adaptif dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan zaman harus dihadapi tanpa menghilangkan jati diri. "Perlu kita bangun Dayah yang kokoh secara spiritual dan tangguh secara ekonomi. Santri kita harus mampu menjadi agen perubahan, pelaku usaha, dan pemimpin masyarakat yang membawa rahmat bagi sekitarnya," tambahnya.
Lebih lanjut, Ayah Wa menegaskan bahwa keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan Dayah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada kemajuan. Ia menyebutkan, mulai tahun anggaran 2026 dan seterusnya, Pemkab akan terus mengalokasikan dana khusus untuk mendukung program-program penguatan Dayah, termasuk pembangunan infrastruktur, pemberdayaan tenaga pendidik, dan peningkatan kualitas lulusan. "Aceh Utara tidak akan maju jika kita abai terhadap pendidikan Dayah. Ini adalah amanah sejarah yang harus kita jaga bersama," tutupnya.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Zulkifli, menjelaskan bahwa Pemkab Aceh Utara memberikan perhatian merata kepada seluruh jenis Dayah, baik yang bercorak salafi maupun modern. "Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyamakan visi, menyelaraskan program, dan memastikan keadilan dalam pemberian dukungan," ujarnya. Kesetaraan tersebut menjadi fondasi dalam pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Sebagai wujud apresiasi terhadap dedikasi para pimpinan Dayah, Pemkab Aceh Utara menetapkan program umrah tahunan mulai tahun 2026. Sebanyak 30 pimpinan Dayah akan diberangkatkan ke Tanah Suci setiap tahunnya. Ini bukan sekadar penghargaan, melainkan juga bentuk motivasi agar para pimpinan Dayah terus menjadi teladan dalam membina umat.
Selain itu, program pelatihan keterampilan hidup (life skills) untuk santri menjadi fokus kedua. Pelatihan ini mencakup menjahit, keterampilan teknis dasar, dan keterampilan produktif lainnya. Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan ekonomi para santri, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keilmuan agama, tetapi juga memiliki bekal menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan.
Pelatihan tersebut akan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan Dayah, Dinas Tenaga Kerja, dan Tim Akreditasi Dayah Provinsi Aceh. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa Pemkab Aceh Utara serius dalam membangun sistem pendidikan Dayah yang terintegrasi dan berorientasi pada masa depan.
Zulkifli menambahkan, pelatihan keterampilan hidup merupakan langkah penting untuk menjadikan Dayah sebagai pusat unggulan dalam pendidikan karakter, ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman. "Inisiatif ini sangat selaras dengan visi Bupati dan Wakil Bupati untuk mewujudkan santri yang mandiri dan berdaya saing," katanya.
Program-program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan para tenaga pendidik Dayah. Dengan demikian, Dayah tidak hanya mencetak kader ulama, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman.
Bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, penguatan lembaga Dayah adalah investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang religius, produktif, dan sejahtera. Melalui pendekatan ini, Ayah Wa dan Bang Panyang ingin memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan daerah berpijak pada nilai agama dan kemaslahatan umat.
Langkah-langkah ini membuktikan bahwa Pemkab Aceh Utara menempatkan pendidikan Dayah sebagai garda depan dalam strategi pembangunan daerah. Tak hanya menjawab kebutuhan spiritual masyarakat, tapi juga menjawab tantangan sosial dan ekonomi dengan pendekatan yang inklusif dan transformatif.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan lembaga Dayah, masa depan Aceh Utara tampaknya tengah diarahkan menuju satu titik tujuan: masyarakat yang berilmu, bermoral, dan berdaya saing di tengah arus globalisasi yang terus bergulir. [Adv]
Pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Aceh Utara ini dipimpin langsung oleh Bupati H. Ismail A. Jalil, SE, MM, yang akrab disapa Ayah Wa. Turut hadir mendampingi, Wakil Bupati Tarmizi (Bang Panyang), Sekretaris Daerah A. Murtala, serta sejumlah pejabat penting lainnya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Dayah Zulkifli dan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Razali. Momen ini menjadi panggung dialog strategis antara pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan Dayah.
Dalam sambutannya, Ayah Wa menekankan bahwa Dayah bukan hanya institusi pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan moral generasi muda Aceh Utara. Ia menyatakan bahwa peran Dayah harus terus diperkuat dengan dukungan nyata dari pemerintah daerah, agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Ayah Wa menegaskan bahwa penguatan pendidikan Dayah merupakan bagian dari misi besar membangun masyarakat Aceh Utara yang berakhlak, cerdas, dan mandiri. Ia menyampaikan bahwa santri dan pimpinan Dayah adalah pilar penting dalam menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi identitas daerah. "Kita ingin santri Aceh Utara tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi dinamika zaman dengan keterampilan hidup yang mumpuni," ujarnya penuh semangat.
Ayah Wa juga mengajak seluruh pimpinan Dayah untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam merancang program-program pembinaan yang adaptif dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan zaman harus dihadapi tanpa menghilangkan jati diri. "Perlu kita bangun Dayah yang kokoh secara spiritual dan tangguh secara ekonomi. Santri kita harus mampu menjadi agen perubahan, pelaku usaha, dan pemimpin masyarakat yang membawa rahmat bagi sekitarnya," tambahnya.
Lebih lanjut, Ayah Wa menegaskan bahwa keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan Dayah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada kemajuan. Ia menyebutkan, mulai tahun anggaran 2026 dan seterusnya, Pemkab akan terus mengalokasikan dana khusus untuk mendukung program-program penguatan Dayah, termasuk pembangunan infrastruktur, pemberdayaan tenaga pendidik, dan peningkatan kualitas lulusan. "Aceh Utara tidak akan maju jika kita abai terhadap pendidikan Dayah. Ini adalah amanah sejarah yang harus kita jaga bersama," tutupnya.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Zulkifli, menjelaskan bahwa Pemkab Aceh Utara memberikan perhatian merata kepada seluruh jenis Dayah, baik yang bercorak salafi maupun modern. "Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyamakan visi, menyelaraskan program, dan memastikan keadilan dalam pemberian dukungan," ujarnya. Kesetaraan tersebut menjadi fondasi dalam pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Sebagai wujud apresiasi terhadap dedikasi para pimpinan Dayah, Pemkab Aceh Utara menetapkan program umrah tahunan mulai tahun 2026. Sebanyak 30 pimpinan Dayah akan diberangkatkan ke Tanah Suci setiap tahunnya. Ini bukan sekadar penghargaan, melainkan juga bentuk motivasi agar para pimpinan Dayah terus menjadi teladan dalam membina umat.
Selain itu, program pelatihan keterampilan hidup (life skills) untuk santri menjadi fokus kedua. Pelatihan ini mencakup menjahit, keterampilan teknis dasar, dan keterampilan produktif lainnya. Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan ekonomi para santri, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keilmuan agama, tetapi juga memiliki bekal menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan.
Pelatihan tersebut akan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan Dayah, Dinas Tenaga Kerja, dan Tim Akreditasi Dayah Provinsi Aceh. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa Pemkab Aceh Utara serius dalam membangun sistem pendidikan Dayah yang terintegrasi dan berorientasi pada masa depan.
Zulkifli menambahkan, pelatihan keterampilan hidup merupakan langkah penting untuk menjadikan Dayah sebagai pusat unggulan dalam pendidikan karakter, ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman. "Inisiatif ini sangat selaras dengan visi Bupati dan Wakil Bupati untuk mewujudkan santri yang mandiri dan berdaya saing," katanya.
Program-program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan para tenaga pendidik Dayah. Dengan demikian, Dayah tidak hanya mencetak kader ulama, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman.
Bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, penguatan lembaga Dayah adalah investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang religius, produktif, dan sejahtera. Melalui pendekatan ini, Ayah Wa dan Bang Panyang ingin memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan daerah berpijak pada nilai agama dan kemaslahatan umat.
Langkah-langkah ini membuktikan bahwa Pemkab Aceh Utara menempatkan pendidikan Dayah sebagai garda depan dalam strategi pembangunan daerah. Tak hanya menjawab kebutuhan spiritual masyarakat, tapi juga menjawab tantangan sosial dan ekonomi dengan pendekatan yang inklusif dan transformatif.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan lembaga Dayah, masa depan Aceh Utara tampaknya tengah diarahkan menuju satu titik tujuan: masyarakat yang berilmu, bermoral, dan berdaya saing di tengah arus globalisasi yang terus bergulir. [Adv]
Via
Aceh Utara