Survei Unicef: 87 Persen Siswa ingin segera kembali ke sekolah

author photoRedaksi
17 Jun 2020 - 07:20 WIB

Unicef merilis hasil dua survei terbaru yang menunjukkan bagaimana siswa selama ini belajar dari rumah selama pandemi COVID-19. Hal ini beriringan dengan Pemerintah Indonesia yang merilis panduan baru minggu ini untuk membuka kembali sekolah di seluruh pelosok negeri

Survei yang dilakukan oleh Unicef dari 18 hingga 29 Mei 2020 dan 5 hingga 8 Juni 2020 melalui kanal U-Report yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Facebook Messenger, menerima lebih dari 4.000 tanggapan dari siswa di 34 provinsi. 

Peserta ditanyai serangkaian pertanyaan tentang bagaimana mereka menjalani pembelajaran jarak jauh dan bagaimana perasaan mereka tentang pembukaan kembali sekolah.

"Hasil survei menunjukkan bahwa siswa sangat ingin kembali ke sekolah, sekitar dua pertiga (66 persen) mengatakan mereka merasa tidak nyaman belajar dari rumah, dan mayoritas (87 persen) mengatakan mereka ingin segera kembali ke sekolah," kata Perwakilan Unicef, Debora Comini dikutip dari keterangan resmi, Rabu 17 Juni 2020.

Ketika ditanya tentang kembali ke sekolah di tengah pandemi, setengah dari responden mengatakan mereka percaya akan lebih baik untuk kembali setelah jumlah kasus COVID-19 berkurang. Sebagian besar (88 persen) mengatakan mereka bersedia mengenakan masker di sekolah dan 90 persen mengatakan mereka memahami pentingnya jarak fisik jika mereka melanjutkan pembelajaran di kelas.

Ketika ditanya tentang tantangan utama yang mereka alami saat belajar dari rumah, 38 persen siswa mengatakan mereka kekurangan bimbingan dari guru sementara 35 persen menyebutkan akses internet yang buruk. Jika pembelajaran jarak jauh berlanjut, lebih dari setengah (62 persen) mengatakan mereka membutuhkan bantuan untuk kuota internet.

"Anak-anak yang paling rentan adalah yang paling terpukul oleh penutupan sekolah, dan kita tahu dari krisis sebelumnya bahwa semakin lama mereka tidak bersekolah, semakin kecil kemungkinan mereka untuk kembali," katanya.

Selama penutupan sekolah pada awal Maret, sebanyak 60 juta siswa di seluruh negeri terdampak. 

"Ketika negara ini mulai mengurangi pembatasan, sangat penting untuk memprioritaskan pembelajaran anak-anak baik di sekolah atau jarak jauh," ucapnya. (Viva)
KOMENTAR