Mudik Saat Ini Dianggap Sebagai Masalah Sosial

author photoCitizen Journalism
29 Mei 2020 - 11:46 WIB

Oleh Hermawansyah, S.Ant

Perjalanan untuk menemui orang tua, sanak keluarga dikampung halaman dalam moment-moment spesial memang sangat menyenangkan. Temu kangen, Berkumpul, bercerita seusai mendapatkan waktu liburan yang mungkin hanya sekali dalam setahun. Dalam masyarakat indonesia mudik memang identik dekat hari raya keagamaan, sebagai negara yang berpenduduk terbesar umat islam di dunia, Indonesia memiliki fenomena sosial yang sangat menakjubkan, itu terlihat dari tindakan masyarakat yang berbondong-bondong selapas liburan bekerja dan ditambah dengan hari raya keagamaan sangat antusias menemui orang-orang yang terkasih dikampung halaman.

Fenomena sosial tersebut pada tahun ini tidak seperti biasanya, saat ini banyak negara tengah tertimpa perang mental, terutama indonesia. Kehadiran pademi covid 19 ini memang menguji pemerintah untuk menanggulangi agar tidak menyebar secara luas. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menuntaskan dan memutus mata rantai penyebaran pandemi ini. 

Dimulai dari anjuran mencuci tangan menggunakan sanitezer beralkohol atau sabun, memakai masker, jaga jarak, makan-makanan yang dapat menambah imun tubuh, hindari makan-makanan yang belum matang terutama daging dan anjuran lainnya, disisi itu pemerintah juga mengeluarkan kebijakan dalam menangani pasien terinfeksi seperti, memeriksakan diri kepada tenaga medis terdekat jika memiliki gejala, tetap memakai masker agar tidak menularkan kepada orang lain,  isolasi berskala besar atau mandiri dan disusul dengan penerbitan kebijakan PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada daerah-daerah yang telah terbukti sebagai zona merah.

Dalam penerapan protokol kesehatan yang memiliki poin-poin, seperti yang saya ungkapkan diatas, didalam masyarakat kita, banyak sekali masih kita temui pelanggaran-pelanggaran yang tidak selaras dengan apa yang telah di anjurkan dan diterapkan oleh pemerintah, dalam hal ini saya mengganggap adanya kesimpang siuran dalam mengkampanyekan hidup ala sehat untuk terhindar dari infeksi virus tersebut. 

Banyak masyarakat tidak tahu terlalu dalam apa imbasnya ketika mereka tertular atau menularkan, adanya kepercayaan lebih bahwa virus tersebut tidak akan mendekati mereka. Sebagai analisis banyaknya masyarakat yang masih mudik atau pulang kampung halaman seakan nantinya mereka aman-aman saja, mereka tidak menyadari apa yang mereka temui disaat bekerja, mereka juga tidak tahu apakah mereka tertular didalam perjalanan. Sebenarnya itulah yang harus benar-benar ditanamkan nilai-nilainya, agar tidak menyebar kepada orang-orang yang dikasihi di kampung halamannya.

Kenapa saya katakan diatas mudik tersebut saat ini dianggap sebagai masalah sosial, saya ingin mengembangkan konsep yang telah dibangun oleh Edi Suharto, PhD. Beliau merupakan Ketua Program PascaSarjana Spesialis Pekerjaan Sosial, Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung: Social Policy Expert, Galway Development Services International (GDSI), Irlandia. 

Dalam uraian kalimatnya mengatakan masalah sosial bisa juga diartikan sebagai sebuah kondisi yang dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diharapkan. Nah dengan ungkapan yang telah beliau paparkan bahwasaya kondisi masyarakat yang patuh saat ini sangat terganggu dengan adanya oknum-oknum disekitar tempat tinggal mereka yang tidak mematuhi aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, kondisi saat ini yang nyata-nyata tidak diindahkan oleh oknum masyarakat membuat kita dapat mengulang kaji dengan pikiran ilmiah, bahwasnya pemerintah saat ini amat tanggung untuk mengkampanyekan bahwa segala tindakan yang tidak mematuhi aturan nantinya berakibat fatal terhadap kesehatan masyarakat, apalagi Covid 19 ini merupakan pandemi yang sangat membahayakan jika terinfeksi.

Para pakar lain juga berpendapat seperti Jenssen, mengungkapkan secara luas masalah dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara harapan dan kenyataan atau kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya. Nah ungkapan beliau juga menambahkan penjelasan yang amat mendukung, seluruh lapisan masyarakat berharap supaya situasi ini cepat pulih dan apa yag dinjurkan oleh pemerintah sesuai kenyataan, makanya pemerintah harus ketat untuk membimbing oknum masyarakat pelanggar untuk mematuhi apa yang telah menjadi kebijakannya untuk mengatasi Covid 19 ini. 

Untuk mendukung kajian ini saya juga menampilkan satu pendapat pakar lainya, yaitu Horton dan Leslie dimana mereka membuat pengertian tentang masalah sosial sebagai suatu kondisi yang dirasakan banyak orang tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan melalui aksi sosial secara kolektif. 

Apa yang disebut mereka berdua merupakan kajian yang amat dalam dimana disaat masa sekarang, banyak masyarakat yang goyah diakibatkan oleh Covid 19, untuk mengatasinya haruslah dilaksanakan secara nilai-nilai kebersamaan, dimana setiap individu berhak menyelamatkan seluruh lingkunganya agar terhindar dari penularan virus, dan mengawal pemulihan keadaan di mulai secara sadar dan bertanggung jawab dari tingkat berskala kecil, seperti keluarga, desa hingga nantinya kekota dan berakhir pemulihan secara total diseluruh wilayah negara. 

Penulis adalah salah satu Alumni Antropologi dan saat ini merupakan mahasiswa PascaSarjana Sosiologi Universitas Malikussaleh, Kota Lhokseumawe.
KOMENTAR