Belum Habis Diterpa Wabah Kini kembali Di munculkan Aplikasi Kitab Suci Aceh Malapetaka Apalagi Untuk Umat Islam

author photoM. Sulaiman
31 Mei 2020 - 03:17 WIB

BANDA ACEH- ditengah panasnya isu wabah penyakit yang mendunia, kini masyarakat kembali dihebohkan dengan munculnya sebuah Aplikasi yang lebih berbahaya namun tidak mematikan, yaitu aplikasi yang dapat merusak agama dan aqidah umat islam.

Namun yang lebih mengejutkan lagi, aplikasi ini mengatasnamakan Aceh yaitu "Kitab Suci Aceh" yang langsung bisa ditemukan dalam pencaharian Playstore.

Kitab Suci Aceh, membacanya saja sudah muncul dalam benak kita, apakah Aceh sudah punya kitab sendiri yang menggantikan Kitab Suci Al-Qur'an ? Jawabannya tentu saja tidak. Tetapi aplikasi ini dibuat oleh pihak atau oknum yang tidak bertanggungjawab.

Melihat hal ini Wakil Ketua GPI Kota Banda Aceh, Munandar Saimi selaku Wakil Divisi Hukum dan Advokasi geram dan angkat bicara. Kehadiran aplikasi ini menjadi tanda tanya besar kepada pihak google yang telah mengizinkan aplikasi tersebut, untuk di muat dan bisa di gunakan oleh masyarakat. Aplikasi ini dikembangkan oleh Faith Comes by Hearing dan sudah sangat banyak dibahas di berbagai media sosial. Sebut Munandar Suimi Kepada Media TheAtjehNet Sabtu (30 Mei 2020) Malam.

"Ini merupakan sebuah penghinaan bagi masyarakat Aceh yang mayoritas memeluk agama Islam. Dalam aplikasi tersebut membahas tentang kitab injil, taurat, dan zabur yang telah diubah dari aqidah yang sebenarnya dan bebarapa bagian juga menjelaskan tentang Isa anak Tuhan. Hal ini benar-benar sangat merusak Aqidah islam".

Selanjutnya Munandar berharap aplikasi ini dapat segera dihilangkan supaya tidak menjadi malapetaka bagi generasi atau orang awam khusus orang Islam.

"Saya berharap aplikasi dapat segera dihapus, dan kita selaku masyarakat juga bisa _meng-report_ atau melaporkan kepada pihak google agar segera di blokir".

"Cara melaporkan aplikasi tersebut cukup dengan Meng-klik tanda titik tiga pada sudut kanan aplikasi, dan melaporkan aplikasi tersebut atas nama penghinaan".Tegas Munandar Saimi.(Rel)
KOMENTAR