Razjis Fadli: Sebagian Besar Caleg tidak Mempunyai Gagasan serta Konsep

author photoCitizen Journalism
8 Feb 2019 - 21:28 WIB

LHOKSEUMWE - Tanggal 17 April 2019 adalah sebagai puncak Pesta Demokrasi 5 tahunan, akan memilih para anggota dewan legislatif DPR RI, DPD RI dan DPRD (DPRA dan DPRK jika di Aceh) serta akan memilih presiden dan wakil presiden.

Menyikapi pemilu tahun 2019 aktivis Aceh, Razjis Fadli memeberi beberapa pandangan kritisnya terhadap para kontestan pemilu tahun ini, terutama untuk Calon Legislatif DPRK Lhokseumawe dan Aceh Utara serta Caleg DPR Aceh Dapil 5 (Daerah Pemilihan Aceh Utara – Lhokseumawe).

"Saya menilai sebagian besar caleg tidak mempunyai gagasan serta konsep, saya berani mengatakan demikian karena faktanya sampai hari ini saya belum menemukan ide – ide yang mumpuni dari para caleg yang berkompetisi. Malah saya kerap mendapati ada sebagian caleg jika di tanya tentang program kerja atau apa yang akan dilakukan jika menjadi legislatif, mereka menajabarkan program kerja yang seharusnya dilakukan oleh eksekutif, contohnya sebagian dari mereka kerap berjanji membangun jembatan jika terpilih, padahal bangun jembatan, membuat jalan, dan sejenisnya, itu tugas eksekutif" kata razjis.

Lanjut dia, selain tidak memiliki konsep dan gagasan, sebagian besar caleg juga tidak benar - benar paham tentang permasalahan pemerintahan baik itu soal budgetting, legislasi dan mekanisme controling, jika hal ini tidak dipahami itu artinya caleg belum layak mewakili rakyat.
Imbas dari 'tumpul' pikiran, para caleg hanya berkampanye dengan mengolala isu, misalnya caleg dari parnas mereka  mengelola isu agama dan dan isu lainya sedangkan caleg dari Parlok kadang - kadang mengelola isu 'nasionalisme' Aceh untuk menarik perhatian pemilih.

"hanya kekuatan rakyat yang mampu melawan politik semacam ini, jika ini terus dibiarkan maka Pemilu tahun ini akan mengahsilkan pilu" imbuh Razjis

Celakanya lagi, sekarang timbul fenomena biaya politik mahal, menurut Razjis mahalnya biaya politik karena rakyat tidak yakin dengan caleg, ketidakyakinan rakyat karena caleg tidak mempunyai gagasan atau ide yang dapat meyakinkan pemilih. 

Rata – rata rakyat  beranggapan jika tidak mengambil untung pada saat kampanye atau tahun politik maka tidak ada kesemapatan lain untuk 'menikmati' hasil kinerja para wakilnya, bahakan ada anggapan yang lebih satire lagi bahwa para kontestan menjadikan pemilu untuk mencari 'kerja' serta memperkaya kolega. 

"Hati – hati saja, akibat dari minimnya gagasan kita khawatirkan para caleg melancarkan serangan fajar" 

"Pada akhirnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa dari kepemimpinan yang medioker tidak mungkin kita berharap ada gagasan gasan agung, dari leadership serba tanggung tidak mungkin kita berharap perubahan perubahan agung" tutup Razjis. (Rel)
KOMENTAR