Godzilla El Nino Mengintai, Jawa Tengah Diuji di Tengah Ambisi Lumbung Pangan
SEMARANG - Peringatan itu datang dari dua lembaga yang selama ini menjadi rujukan dunia dalam membaca arah cuaca global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) sama-sama mengirim sinyal yang tidak bisa diabaikan: El Nino berpotensi kembali muncul mulai pertengahan 2026 dengan intensitas yang diperkirakan cukup kuat.
Bagi Jawa Tengah, provinsi yang selama ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional, kabar tersebut bukan sekadar informasi meteorologi. Di baliknya tersimpan ancaman terhadap produksi pangan, pendapatan petani, hingga stabilitas ekonomi daerah.
Dalam siaran pers yang dirilis Selasa, 2 Juni 2026, WMO memperkirakan El Nino mulai berkembang pada periode Juni hingga Agustus dan berpotensi bertahan sampai November 2026. Fenomena itu diprediksi meningkatkan risiko kekeringan, gelombang panas, serta cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia.
“Kita perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Peringatan serupa sebenarnya telah lebih dahulu dikeluarkan NOAA pada pertengahan Mei lalu setelah mencatat peningkatan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis. Kenaikan suhu laut itu menjadi salah satu indikator utama kemunculan El Nino.
Bagi kalangan ilmuwan, fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Namun perubahan iklim global membuat dampaknya semakin sulit diprediksi.
Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menyebut El Nino saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai siklus iklim biasa. Pemanasan global telah memperbesar intensitasnya hingga melahirkan istilah yang populer di kalangan klimatolog, yakni *Godzilla El Nino*.
“Polanya terasa semakin cepat karena pemanasan global. Kalau intensitasnya sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” ujar Bayu dikutip dari Bisnis.
Bersiap dengan Pompa dan Irigasi
Di lapangan, ancaman itu mulai direspons pemerintah daerah melalui berbagai program antisipasi.
Di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, misalnya, para petani mulai mengandalkan sistem irigasi perpompaan yang terhubung dengan Bendungan Randugunting. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu andalan menghadapi kemungkinan kemarau panjang.
Karyono, anggota Kelompok Tani Budi Luhur, mengaku bantuan irigasi yang diberikan pemerintah telah mengubah pola tanam di wilayahnya.
Dulu, petani hanya mampu menanam padi dua kali setahun ketika curah hujan cukup tinggi. Kini mereka bisa melakukan tiga kali musim tanam.
“Sejak ada bantuan irigasi perpompaan, petani bisa panen tiga kali,” kata Karyono.
Kelompok tani yang beranggotakan sekitar 80 orang itu mengelola lahan seluas 35 hektare dengan produktivitas mencapai 7 hingga 7,5 ton gabah per hektare.
Selain jaringan irigasi, mereka juga telah menerima berbagai bantuan alat pertanian mulai dari transplanter, mesin pengering gabah hingga combine harvester.
Meski demikian, para petani menyadari bahwa ancaman iklim tahun ini berbeda dibanding musim-musim sebelumnya.
Strategi Pemerintah Masih Konvensional
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berulang kali menyatakan daerahnya siap menghadapi El Nino. Fokus utama pemerintah provinsi masih bertumpu pada penyediaan sumber air bagi sektor pertanian.
Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan sedikitnya 334 unit rehabilitasi jaringan irigasi, 75 unit irigasi alternatif, 1.823 unit irigasi perpompaan, dan 366 unit irigasi perpipaan telah disiapkan untuk mendukung sektor pertanian.
Dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Boyolali awal Juni lalu, Luthfi bahkan meminta TNI membantu memetakan wilayah-wilayah yang membutuhkan intervensi air lebih cepat.
“Terkait embung dan irigasi, saya minta TNI ikut memetakan daerah-daerah mana yang akan menjadi intervensi,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan pemerintah juga mempercepat masa tanam, memperluas penggunaan varietas tahan kekeringan, serta meningkatkan pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga target produksi padi Jawa Tengah tahun 2026 yang dipatok sebesar 10,5 juta ton.
Hingga kuartal pertama tahun ini, produksi padi tercatat mencapai 4,69 juta ton atau sekitar 44 persen dari target tahunan.
Ancaman yang Lebih Besar
Namun sejumlah kalangan menilai pendekatan tersebut masih terlalu sempit. Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengingatkan bahwa El Nino bukan hanya soal berkurangnya pasokan air.
Menurut dia, ancaman yang lebih besar justru datang dari meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman, penurunan produktivitas lahan, hingga lonjakan biaya produksi petani.
“Bantuan pompa dan segala macam itu tidak cukup untuk menghadapi situasi yang rumit seperti ini,” kata Said.
Ia mengutip data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang memperkirakan potensi kerugian sektor pertanian di Jawa Tengah akibat El Nino bisa mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Pengalaman El Nino 2023 menjadi pelajaran penting. Saat itu, secara nasional kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp77,9 triliun dengan penurunan produksi padi di Pulau Jawa dan Sumatera antara 10 hingga 17,5 persen.
Menurut Said, biaya usaha tani saat El Nino bisa meningkat 10 hingga 30 persen. Sebaliknya, pendapatan petani justru berpotensi turun hingga sepertiga.
Dalam kondisi seperti itu, kerugian bersih petani dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp9 juta per hektare setiap musim tanam.
Belajar dari Krisis
KRKP menawarkan sejumlah rekomendasi yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Di antaranya penerapan konsep agroekologi melalui diversifikasi tanaman, penguatan sistem informasi iklim berbasis komunitas, pengembangan sistem peringatan dini di tingkat desa, hingga reformasi sistem pangan yang tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada komoditas padi.
Menurut Said, pengalaman menghadapi El Nino beberapa tahun terakhir seharusnya menjadi modal berharga bagi pemerintah.
“Melihat pengalaman 2023, kita sudah melewati proses belajar yang cukup. Mau lemah, mau kuat, El Nino tetap harus direspons dengan tepat,” ujarnya.
Kini, di tengah optimisme Jawa Tengah mempertahankan statusnya sebagai salah satu lumbung pangan nasional, ancaman Godzilla El Nino menjadi ujian berikutnya.
Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menyediakan air bagi sawah yang mengering. Yang lebih penting adalah apakah sistem pangan dan kebijakan pertanian Indonesia sudah cukup tangguh menghadapi iklim yang semakin sulit diprediksi.
Baca Juga:

