Festival Seni Aceh Kembali Digelar, Hikayat hingga Teater Jadi Panggung Seniman Muda
Festival Seni dan Budaya II menghadirkan hikayat, syair, teater, dan tari sebagai ruang ekspresi seniman muda sekaligus upaya menjaga budaya Aceh.
BANDA ACEH — Hikayat, syair, teater, hingga berbagai pertunjukan seni tradisi mewarnai Festival Seni dan Budaya II yang digelar UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh di Lapangan Taman Seni dan Budaya Aceh, Rabu, 24 Juni 2026.
Mengusung tema "Rampak Kreatif Tanah Rencong: Kolaborasi Tanpa Batas", festival ini menjadi ruang bagi seniman muda untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat.
Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, Cut Rita Mutia, mengatakan festival tersebut merupakan kelanjutan dari program pembinaan seni yang selama ini dijalankan. Setiap penyelenggaraan menghadirkan karya dan penampil yang berbeda sebagai bagian dari proses pengembangan kreativitas para seniman.
"Festival seni dan budaya ini menjadi wadah bagi seniman muda untuk menampilkan karya sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas proses latihan yang telah mereka jalani. Kegiatan ini juga bertujuan mengedukasi masyarakat tentang kesenian Aceh," kata Cut Rita.
Berbagai cabang seni ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari sastra Aceh yang dikemas dalam bentuk hikayat dan syair hingga pertunjukan teater. Ragam pertunjukan itu diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi yang terus berkembang.
Menurut Cut Rita, festival akan berlanjut pada tahap berikutnya, meski jadwal penyelenggaraannya masih disusun. Ia menilai kesinambungan kegiatan menjadi salah satu cara menjaga ruang berkarya bagi generasi muda sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya daerah.
Ia menilai tantangan pelestarian budaya semakin besar seiring derasnya pengaruh budaya populer dari luar. Karena itu, ruang-ruang pertunjukan dinilai penting untuk mendekatkan kembali generasi muda dengan tradisi yang menjadi identitas Aceh.
"Tantangan kita sekarang adalah bagaimana generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Festival seperti ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga warisan budaya tetap hidup," ujarnya.
UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, kata Cut Rita, akan terus membuka ruang kolaborasi dengan para pelaku seni agar lahir karya-karya baru yang tetap berakar pada tradisi sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman.
Baca Juga:
